Breaking News

Zainuddin, Kuburkan Surat ini Setelah Kau Membacanya

Zainuddin, Kuburkan Surat ini Setelah Kau Membacanya
Ilustrasi (foto: repro)

Dari atap kapal yang ditumpanginya, pandangan Zainuddin menyapu laut. Kabur, basah oleh air mata. Butir hujan kecil bukan satu-satu lagi, tapi sudah membanjir tergenang. Sekali-sekali, Zainuddin menarik nafas, karena begitu terharu.

Surat bersampul biru ini diterima Zainuddin satu jam sebelum kapal meninggalkan dermaga sunyi itu.  Dermaga sisa masa penjajahan yang sudah karatan.

"Zainuddin, bacalah surat ini setelah satu jam kau berada di tengah laut." Pesan Zainab padanya.

"Iya, nanti di tengah alunan ombak, saat camar menitih buih, dan angin menampar wajah, aku akan baca," janji Zainuddin sambil menatap tirus tubuh Zainab.

Sebenarnya, Zainuddin sangat penasaran dengan isi surat Zainab. Apa gerangan, mengapa mesti satu jam di laut. Tapi demi janji, ia urungkan rasa ingin tahu itu. Ia pendam sebagai bukti kesetiaan.

Baca juga: Tuan Panter

Pipi Zainuddin terus basah oleh air mata, sekali-sekali dibilasnya dengan ujung baju. Membaca dihentikannya sejenak, ia sapu pandangannya ke laut. Tak disangka, isinya menyedihkan.

Perlahan Zainuddin menarik nafas, ia tahan sekejab di rongga dada lalu dihembuskan perlahan melepaskan keharuan yang membuncah di ulu hati.

"Zainab, mengapa cinta kita seperti ini. Belum sembuh lukaku dihina emak dan bapakmu, kini sembilu berikutnya ditusuk ulang ke jantungku dengan fitnah lain. Salah apa aku Zainab?" gumaman Zainuddin mengenang nasibnya.

"Telah ku kayuh bidukku Zainab, merenangi pulau tempat tinggalmu nan jauh, setelah sampai di dermaga, apa yang kuperoleh, kau yang kuharap bisa menjemputku setelah puluhan purnama tak bersua, nyatanya setelah aku tiba, kabar yang kudengar, kau telah jadi milik laki-laki lain yang sepantasnya menjadi ayahmu. Oh Tuhan, dosa apa yang telah aku lakukan, hingga begini tragis hidup ini."

"Apakah salah diriku Zainab? Apakah karena aku anak sebatang kara yang seperti rakit pohon pisang dan parang tanpa gagang sehingga aku begitu hina di mata mereka." Zainuddin bertanya pada dirinya sendiri di tengah kertas surat yang nyaris lumer dengan air mata.

Zainuddin terus mengais harapan dari isi surat yang dibacanya, mungkin ada sesuatu yang manis pikirnya, tapi sampai kalimat dan salam terakhir, untaian kata dan kalimat yang ditoreh, melulu kisah sedih dan mengundang air mata.

Mata Zainuddin kembali menyapu laut. Dari atap kapal, ia tatap ulang pulau yang semakin mengecil. Itulah tempat Zainab tinggal. 

Apa ia masih berdiri di dermaga tua sisa zaman penjajah itu? Yang besinya telah karatan? Atau telah pergi kembali ke sangkar emas mengabdi pada seorang tuan tua yang hartanya bisa membeli segala.

Zainuddin, menatap beberapa ekor camar menukik sambil mengelilingi lambung kapal. Terbangnya semakin jauh hingga akhirnya hinggap pada sepotong kayu hanyut.

"Kik, kik, kik," telinga Zainuddin mendengar suara tukikan sepasang camar dari kejauhan.

Perasaan Zainuddin tak menentu, ada keharuan dan rindu yang terbang dibawa angin.

Perlahan dilipatnya surat Zainab dengan tangisan yang tetap tertahan. Ia sapu kembali pandangannya di biru laut.

Di kejauhan, masih ada di sana dua ekor camar bercinta genit di atas sebilah pohon yang mengapung. Indah terasa diayuni riak ombak.  “Bahagianya mereka.” pikir Zainuddin.

Beda dengannya.  Duka lara sedang mendera jiwa. Kekasih yang dicinta tidak saja telah menduakan dirinya, namun akan pergi selamanya.

Zainuddin berharap yang ditulis Zainab di surat itu tidak terjadi. Ia tidak ingin Zainab mengakhiri hidupnya tragis dengan cara bunuh diri. Itu bukan penyelesaian terbaik untuk sebuah masalah, begitu harapan Zainuddin.

Tapi kadang terasa sulit menyatukan cinta dengan akal. Cinta dapat mengalahkan segalanya, apalagi selama Zainab bersama Datuk, tidak ada bahagia yang ia peroleh. Datuk tetap datuk yang ingin berkuasa di atas derita orang lain.

Sesungguhnya, sejak Zainuddin tahu
Zainab sudah menikah, sekalipun pahit ia telah relakan Zainab menjadi isteri Datuk, orang berharta di pulau terpincil itu.

"Aku harap kau mau menerima Datuk apa adanya," harap Zainuddin saat bertemu secara sembunyi-sembunyi di rumah Mak Etek, adik mamaknya Zainab. Namun, Zainab tetap berharap, Zainuddin mau membawanya lari, meninggalkan pulau sunyi itu.

Zainuddin ragu, dan tetap ragu sampai ia pamit pada Zainab untuk pergi dari pulau itu. Ia tak berani melarikan Zainab yang telah bersuamikan orang lain.

Kini dari atap kapal, sembari menatap pulau yang tak lagi terlihat, Zainuddin hanya bisa berdoa semoga Zainab mengurungkan niatnya.[] 

* Sastrawan yang mengabdikan diri sebagai guru

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...