Breaking News

Jadilah Kolomnis Kanal73

Ruang untuk gagasan Anda tentang berbagai hal, seperti permasalahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau budaya.

UKW bukan Sebuah Jaminan Wartawan Profesional

UKW bukan Sebuah Jaminan Wartawan Profesional
Ilustrasi (foto: Jitunews.com)

UJI Kompetensi Wartawan (UKW) bukanlah sebuah jaminan bahwa seorang wartawan itu profesional dan wartawan yang belum memiliki sertifikat dari Dewan Pers itu tidak professional. UKW hanya sebatas legalitas dan syarat administratif yang menyatakan wartawan tersebut profesional.

Dalam praktek di lapangan, tidak ada jaminan bahwa wartawan yang sudah bersertifikat UKW lebih bagus dari wartawan yang belum mendapatkan sertifikat UKW. Tidak ada yang bisa menjamin itu. Dalam banyak kasus, justeru wartawan yang sudah lulus uji kompetensi Dewan Pers terjerat kasus pelanggaran kode etik jurnalistik.

Dari satu sisi, mereka sudah dianggap profesional oleh Dewan Pers karena sudah lulus uji kompetensi tapi di sisi lain mereka masih mengabaikan etika jurnalistik. Ini sangat-sangat tidak etis dilakukan oleh orang-orang yang sudah “teruji” kompetensinya.

Selama ini, banyak pernyataan yang beredar yang menyudutkan teman-teman wartawan yang belum lulus uji kompetensi kewartawanan yang mengatakan bahwa UKW menjadi pembeda antara wartawan profesional dan abal-abal.

Itu sebuah pernyataan yang tidak jelas referensinya. Karena, kenyataaan di lapangan ada wartawan yang sudah punya UKW kelakuannya jauh lebih parah daripada wartawan yang belum mengantongi sertifikat UKW.

Menurut hemat saya, profesionalitas seorang wartawan tidak terletak pada apakah dia sudah UKW atau belum. Semua dikembalikan ke individu masing-masing. Banyak kasus pada media besar yang memiliki wartawan yang sudah UKW tapi dinyatakan melanggar kode etik oleh Dewan Pers.

UKW hanyalah sebuah bentuk pengakuan dalam organisasi profesi, bukan jaminan dimana seseorang akan dinilai profesional karena sudah bersertifikasi oleh lembaga profesi.

Setiap wartawan ataupun pewarta yang belum memiliki sertifikasi bukan berarti tidak diperbolehkan melakukan liputan berita. Selama media tempat dia bernaung sudah ada legalitasnya tidak ada larangan bagi pewarta untuk melakukn peliputan.

UKW jangan dijadikan tolak ukur media dan wartawan abal-abal. Pernyataan-pernyataan seperti ini banyak beredar di publik dan dalam setiap diskusi, baik itu diskusi resmi maupun di warung-warung kopi yang dinyatakan oleh pihak-pihak yang merasa dirinya sudah punya legalitas.

Pernyataan tersebut tidak tepat dan dapat menyinggung profesi sebagian besar wartawan yang belum ber-UKW. Alangkah baiknya lembaga atau orang-orang yang sudah punya UKW memberikan semangat dan motivasi kepada teman-teman yang belum punya UKW agar mau ikut uji kompetensi kewartawanan, bukan malah menyudutkan mereka.

Sudah seharusnya lembaga-lembaga kewartawanann dan teman-teman yang sudah punya UKW menunjukkan kiprah dan perannya, bukan malah menuding dan melakukan penghakiman sepihak terhadap teman seprofesi yang belum memiliki sertifikat UKW.

Kita dan masyarakat tidak bisa menilai dan melihat dengan jelas, akan ada tidaknya perbedaan antara wartawan profesional dengan wartawan tidak professional. Justeru, mereka akan menilai dari aspek aktual/independensi tidaknya suatu berita yang ditulis.

* Pemerhati Sosial Media, berdomisili di Pidie Jaya

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!

Komentar

Loading...