Breaking News

Jadilah Kolomnis Kanal73

Ruang untuk gagasan Anda tentang berbagai hal, seperti permasalahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau budaya.

Suara Adzan di Tanah Papua

Suara Adzan di Tanah Papua

Semangat memelihara toleransi dinukilkan dalam sebuah semboyan. “Satu tungku tiga batu, satu hati satu saudara". Fakfak: sebuah pembelajaran berharga dari timur.

Alunan lagu “Aku Papua” Franky Sahilatua menemani perjalananku kali ini. Perpaduan musik dan syair lagu yang begitu lekat menggambarkan sosok masyarakat Papua. “Aku Papua... hitam kulit ... keriting rambut ... aku Papua”.
 
Ini merupakan kunjungan keduaku ke  daerah yang dulu bernama Irian Barat. Tepatnya ke Kabupaten Fakfak. Rute penerbangan Jakarta-Fakfak cukup melelahkan. Tapi, keindahan alam di sana bisa membunuh rasa jengah dan bosan. Papua ... “here, I comes”.
 
Tidak ada penerbangan langsung Jakarta menuju Fakfak. Kita harus transit terlebih dahulu di Sorong. Daerah ini masuk wilayah Papua Barat. Sangat terkenal dengan “Raja Ampat”, gugusan pulau-pulau karang nan indah memesona. Orang sering mengibaratkannya sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi.
 
Butuh empat jam penerbangan langsung dari Jakarta ke Sorong. Dari sini, perjalanan kemudian dilanjutkan satu jam penerbangan lagi untuk bisa tiba di Fakfak.

                                                                         ***

Lazimnya, orang yang melakukan perjalanan ke daerah dengan mayoritas penduduk nonmuslim akan mengalami kesulitan mendapatkan makanan halal. Seperti cerita teman-teman yang sering melancong ke Tiongkok , Korea, atau Jepang. Di sana, katanya, sulit sekali menemukan rumah makan muslim.
 
Aku juga berpikir demikian. Seperti perjalananku ke wilayah timur sebelumnya, hal yang sama juga kulakukan kali ini. Aku menyiapkan sejumlah bekal makanan untuk kebutuhan pribadi. Tidak lupa, aku menyiapkan pula sedikit oleh-oleh sebagai buah tangan untuk saudara baruku di Papua.
 
Well. Ternyata, kali ini dugaanku meleset. Port of Fakfak adalah kota pelabuhan yang menyajikan pemahaman baru tentang Papua Barat. Fakfak adalah sebuah kota dengan masjid di setiap sudut bukit bebatuan. Kabupaten Fakfak benar-benar berbeda. Di sini, kita bisa mendengar suara azan berkumandang dari setiap sudut kota. Sungguh, suatu hal yang tak terbayangkan olehku sebelumnya.
 
Keberagaman sangat terasa di sini. Meski dihuni oleh pemeluk agama berbeda, tapi tingkat asimilasi masyarakatnya sangat tinggi. Tradisi ini telah berkembang sejak lama. Konon, sudah terjadi sebelum penjajahan Belanda.

Berdasarkan sensus 2015, penduduk Kabupaten Fakfak berjumlah 73.468 jiwa. Terdiri atas 38.891 laki-laki dan 34.577 perempuan. Mereka mendiami wilayah seluas 38.474 km. Sebagian besar menggantungkan hidup sebagai petani dan nelayan. Hasil bumi yang menonjol di sana adalah biji pala. Sehingga, daerah ini dijuluki juga sebagai “kota pala”.
 
Sebagian besar penduduk Fakfak beragama Islam. Jumlahnya mencapai sekitar 63,2 %. Selain itu, Kristen 25,1 %, Katolik 11,4 %, dan lain-lain 0,30 %. Dari sekian banyak masjid di kota ini, yang terbesar dan terkenal adalah Masjid Agung Baitul Makmur.

***

Ada pembelajaran penting yang dapat dipetik dari kehidupan sosial masyarakat di sana. Sebuah tradisi yang telah berlangsung lama yang telah berhasil merekatkan persatuan dan persaudaraan.
 
Masyarakat Fakfak memiliki pandangan sendiri soal hak individu beribadah. Mereka sangat menghargai perbedaan. Karenanya, pemeluk tiga agama dominan di sana: Islam, Katolik, dan Kristen Protestan bisa berjalan seiring dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
 
Di sana, jika ada anggota keluarga yang berbeda agama, dipandang sebagai sesuatu yang lumrah. Toleransi menjadi semboyan kerukunan yang sudah berlangsung turun-temurun. Ini yang mempererat hubungan persaudaraan. Mereka menyebutnya "satu tungku tiga batu, satu hati satu saudara".
 
Prinsip itu mengajarkan tentang bagaimana menghargai keberagaman. Perbedaan bukan menjadi hambatan untuk tetap menjaga kerukunan keluarga serta masyarakat adat. Tak heran kalau Fakfak selalu damai.
 
Bila ingin melihat Islam di Fakfak, datanglah ke Distrik Kokas. Posisinya 44 km ke arah pesisir. Dulu, untuk mencapai wilayah ini dibutuhkan waktu 12 jam menggunakan longboatdari Ubadari. Tapi, sejak dibukanya jalan trans Papua,hanya dibutuhkan dua jam.
 
Pembangunan jalan trans Papua yang menghubungkan Provinsi Papua Barat dengan Provinsi Papua yang dimulai sejak Pemerintahan Presiden BJ Habibie memiliki arti penting untuk mendukung kemajuan ekonomi masyarakat setempat. Jalan dengan total panjang 4.330 km itu menghubungkan daerah-daerah di kedua provinsi.

Denyut perekonomian Fakfak dan Kokas pun semakin menggeliat sejak lancarnya transportasi darat. Jalan baru nan mulus memanjakan mata dengan pemandangan alam yang hijau menawan, meskipun medannya curam menurun.
 
Kokas merupakan distrik dengan pemukiman terpadat di Fakfak. Dari sinilah Islam pertama kali terhubung dengan Tanah Papua. Kokas memiliki sebuah masjid tua bersejarah. Namanya Masjid Patambura. Masyarakat sekitar menyebutnya  masjid tua Patimburak. Disebut-sebut, merupakan masjid tertua di Fakfak. Peninggalan sejarah Islam abad ke-17.
 
Sesampai di Kokas, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Patimburak menggunakan longboat. Di sini, suasana alamnya pun tidak kalah eksotis dari Kokas. Laut biru dengan hamparan pulau-pulau karang yang hijau, benar-benar memanjakan mata. Setelah satu jam, aku tiba di masjid tua.
 
Inilah peninggalan sejarah Islam paling berharga di Papua. Masyarakat menjadikannya sebagai pusat kegiatan Islam di Kabupaten Fakfak.
 
Menurut sebuah literatur, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun yang lalu. Bangunan yang masih terlihat kokoh dan masih difungsikan tersebut dibangun pada tahun 1870. Salah seorang imam masjid ini bernama Abuhari Kilian.
 
Konon, ceritanya, pada masa penjajahan, masjid ini pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, menurut penuturan warga di sana, hantaman itu masih menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.
 
Musa Heremba, seorang warga di sana bercerita, bahwa penyebaran Islam di Kokastak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad XV, Kesultanan Tidoremulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah raja pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islammulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.
 
Sekilas bangunan masjid yang memiliki luas sekitar 100 meter persegi ini tampak biasa. Suasana berbeda akan terasa begitu kita masuk ke dalam. Arsitektur dan ornamennya terlihat seperti perpaduan bentuk masjid dan gereja. Sampai sekarang, Musa Heremba, imam Masjid Patimburak masih menjaga masjid bersejarah tersebut.
 
Melihat masjid ini, pikiran saya menerawang. Mungkin masjid ini menjadi satu-satunya rumah ibadah yang menggambarkan perpaduan arsitektur Eropa dan Timur Tengah. Dalam hati saya tercenung, ternyata keberagaman bukanlah hal untuk diperdebatkan. Justeru dirayakan sebagai bentuk kerukunan antarumat. Tapi, bagi seorang muslim tetap harus menjaga batas aqidah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Kafirun (6).  Lakum diinukum waliya diin (Bagi kalian agama kalian yang kalian yakini, dan bagiku agamaku yang Allah perkenankan untukku).
 
Kalau berkunjung ke Fakfak, masjid tua ini pantas dijadikan salah satu destinasi. Di sana, Anda akan menemukan sesuatu yang sama sekali berbeda dari perkiraan selama ini: suara adzan di tanah Papua.[*]

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!

Komentar

Loading...