Breaking News

Raibnya Bulan, Kabul yang Tahu

Raibnya Bulan, Kabul yang Tahu
Ilustrasi (foto: repro)

Penduduk kampung Perigi di Tengah Bukit, geger. Pasalnya, satu-satunya harta milik kampung  bernama Bulan, raib entah dimana. Lenyap bak ditelan bumi, tanpa bekas, tanpa jejak, dan tanpa tanda kemana perginya.Tidak ada yang tahu siapa yang nyulik Bulan.

Intel kampung bermata elang dan ciuman bak herder sudah dikerahkan melacak keberadaan Bulan, tapi enam puluh hari  berlalu tanda-tanda ditemukan masih nihil. Ahli nujum dalam dan luar kampung juga sudah  dikerahkan. Ramalannya, Bulan sudah pergi sangat jauh, tidak disebutkan ke arah mana, yang penting sangat jauh, kemungkinan tidak akan kembali lagi.

"Berarti Bulan bukan diculik," ujar Mamora memastikan. Karena selama ini, ada dugaan Bulan diculik, akibat ada yang tak senang padanya.

"Sepertinya, nggak," jawab Kaleb meyakinkan kerabatnya sesama group kopi pancung.

"Tapi mengapa Bulan menghilang, ya?" Mamora penasaran. Bukankah selama ini Bulan diperlakukan dengan baik. Disembah seperti berhala. Setiap suara yang keluar dari tenggorokannya pun tak pernah dibantah. Suaranya mutlak sebuah kebenaran. Bulan sudah dianggap maksum, tidak pernah salah. Kabul sang majikan pun sangat sayang padanya.

Pernah Mahlil yang baru saja lulus sebuah pesantren menolak pemberhalaan orang kampung terhadap Bulan. Ia menentang keras, cara warga memperlakukan Bulan.

"Bulan juga manusia biasa yang tak luput dari salah, jadi perlakukanlah ia seperti biasa," saran Mahlil ketika itu.

Bukannya didengar, Mahlil justru mendapat serangan balik dan pembelaan dari kelompok penyembah Bulan.

"Apa yang kau tahu anak ingusan," celoteh Korman, tetua kampung. Mahlil cuma geleng kepala melihat fanatisme buta mereka.

Siapa Bulan? Sebenarnya, ia bukan penduduk asli kampung Perigi di Tengah Bukit. Awal muncul pertama, laki-laki tinggi, kurus ceking itu seperti orang linglung. Duduk termenung di pojok lapau hingga tengah malam. Pemilik lapau heran dengan lelaki aneh ini. Kalau bicara seadanya, itupun kalau ditanya. Kalau tak ada yang bertanya ia diam membisu.

Pak Kabul, tokoh berpengaruh termasuk orang kaya kampung itu mengajaknya untuk tinggal di rumah besarnya. Karena ia melihat ada "sesuatu" di diri Bulan.

"Ini berkah," bisik hati kecilnya. Maka, dengan pengaruhnya, Bulan diamankan dengan baik. Bulan didandani, dipoles segagah mungkin. Diajarkan cara bertutur layaknya seorang rahib, manusia suci. Jika keluar rumah, ia mengenakan gamis dengan tak luput sorban, layaknya kiay besar.

Padahal, Bulan tak lain representatif dari Kabul. Apa yang dilakukan Bulan sebenarnya suara Kabul. Kabul-lah yang merekayasa gerak-gerik Bulan. Ia hanya boneka, dalang sesungguhnya Kabul.

Maka raibnya Bulan, membuat Kabul dan pengikutnya sangat kehilangan. Kekuatan mereka seakan lumpuh. Tak ada lagi suara serak dan intonasi datar pembelaan dari Bulan terhadap mereka.

Namun, dengan kekuatan uang dan pengaruh, Kabul memerintahkan penduduk kampung mesti menemukan Bulan hidup atau mati. Kabul merasa Bulan miliknya.

"Seperti wanted saja, ya" Mahlil tertawa bersama teman-temannya mendengar maklumat Kabul, menangkap Bulan hidup atau mati.

Sementara di beranda rumah, Kabul dengan kroco-kroconya lagi asik membicarakan Mahlil.

"Nih, Mahlil nampaknya patut dicurigai, karena  ia yang tak senang selama ini pada Bulan," ujar Mamora meyakinkan Kabul. Menurutnya, Ustaz muda ini pantas jadi sasaran tembak kehilangan Bulan.

Kabul yang sedang berpikir keras cuma mengangguk, tersenyum pahit, pura-pura setuju dengar ocehan Mamora. Semua kicauan konconya ia dengar serius sekalipun di luar kebenaran. Kabul tahu Bulan dimana kini berada.

Dua hari sebelum menghilang, ia dan Bulan bertengkar hebat sebab tak suka diperalat Kabul. Sikap diam, tak mau membantah dari Bulan ternyata dimanfaatkan Kabul untuk mencari pengaruh di mata warga yang lima bulan lagi ada hajat pemilihan kepala kampung. Kabul berambisi pada pemilihan kali ini ia menjadi orang nomor satu di Kampung Perigi di Tengah Bukit.

"Aku, tak mau lagi mendukung ambisimu membodohi orang-orang," tolak Bulan keras.

"Cukup sudah aku menjadi herdermu, kali ini aku tak mau lagi." Bulan beranjak meninggalkan Kabul.

Kabul kaget, terkesima, tak menyangka Bulan berani menolak permintaannya. Dalam ketakjuban itu, dengan gerakan refleks belati yang selama ini selalu terselip di pinggang ditariknya lalu ditusukkan ke perut Bulan.  Tiga kali cuma, Bulan terkapar tak bernyawa lagi.

* Sastrawan yang mengabdikan diri sebagai guru

Komentar

Loading...