Breaking News

Preman Taubat

Preman Taubat
Ilustrasi (foto: riaumandiri.id)

LAKI-LAKI itu dikenal dengan nama Rahman. Lengkapnya Abdul Rahman. Kenapa namanya begitu? Tak sesuai dengan watak dan perilaku keseharian seorang preman.

Preman mestinya memiliki nama yang serem, menakutkan, bikin bulu kuduk bergidik kala orang mendengarnya.

Anak buah Rahman pernah protes.  "Nama bos, kok seperti nama santri. Ganti dong, " usul Udin di sebuah senja, karena nama bosnya jadi olokan kelompok preman lain. Hingga membuat Udin Cs malu.

"Apa? ganti nama. Tak sudi ya," Rahman mencibir.

"Agar kamu tahu, saat ayahku memberi nama ini, ia menyembelih seekor kambing, pakai kenduri dan baca doa," umpat Rahman kesal sambil menolak jidat Udin.

"Pantasnya Bos jadi ustadz, bukan pejambret, pencopet, dan tukang palak," ujar Udin kesal dengar penjelasan Rahman. Lalu, meninggalkan bosnya itu sendirian.

Di kesendiriannya, Rahman berpikir, mengangguk- anggukkan kepala sambil tersenyum seperti orang gila.

"Benar juga kata Udin. Dengan profesiku sebagai tukang gaduh, tak pantas namaku Rahman. Bagusnya diganti aja," preman pasar ini ngoceh sendiri.

"Tapi nama apa? Koreng, Gembel, Nayat, atau Ponan."  Rahman bingung, memilih beberapa nama yang berselancar di otaknya sambil garuk kepala yang tak gatal.

"Bocel, kemari kau !" Teriak Rahman pada anak buahnya. Bocel yang sedang tiduran tersentak, kaget. Ia buru-buru menjumpai si Bos yang seperti kebingungan.

"Ada apa Bos?" Bocel mendekat.

"Tak usah, lanjutkan saja tidurmu," sambil mengibaskan tangannya ke arah Bocel. Sebenarnya, ia ingin minta pendapat Bocel, apa nama yang tepat untuknya. Tapi tiba-tiba batinnya menolak dengan nama pengganti yang dipikirkannya itu.

Dulu almarhumah ibunya, Marhamah pernah menyampaikan, ia diberi nama Rahman, kalau dewasa kelak supaya menjadi manusia pengasih, menyayangi sesama.

Namun, harapan orang tuanya sepertinya jauh ikan bakar dari api, belum terkabul juga. Bahkan setelah dewasa, Rahman mulai kasar, semakin tegaan. 

Pernah, bersama gengnya, Rahman merusak lapak jualan seorang kakek, karena tak mau bayar setoran. Esoknya lapak si kakek porak-poranda, rata dengan tanah.

Kalau berurusan dengan polisi tak terhitung lagi, berulang kali ia sudah meringkuk di sel. Ada karena aksi copet, tawuran, pengrusakan. Ada juga karena ganggu anak perawan orang. Pokoknya kloplah kejahatan Rahman.

Begitu pun, ia tak juga kapok. Bahkan terakhir, gengnya Rahman semakin bersinar di kalangan kelompok preman seputaran Pasar Penumbuk. Nama Rahman jadi tranding, terkenal dengan ketegaan dan kenekatannya.

Tapi, setelah Udin mengatakan nama Rahman kurang tepat disandangnya sebagai bos preman, karena beraroma nama santri dan ustadz, Rahman bingung juga. Ia ingin ubah nama itu secepatnya, agar terdengar seram. Tapi hatinya selalu menolak. Ia ingat pesan mamaknya, nama Rahman bermakna pengasih, salah satu sifat Tuhan.

"Alangkah bagusnya, bila nama ini sesuai dengan perilaku yang aku tampilkan. Bukan bikin onar," gumam batin Rahman.

"Aku harus bisa menjadi orang pengasih sesuai namaku." Kesadaran Rahman muncul.

Siang itu matahari membakar bumi. Panasnya luar biasa. Di pos geng mereka, Rahman tidak kelihatan, kemana ia?

Sudah dua hari ini, ketika masuk waktu shalat, Rahman berlari menuju masjid pasar, ikut berjamaah. Rahman sudah bertekad ingin berubah. Ia ingin makna namanya sesuai dengan prilakunya, pengasih.

Seusai shalat, duduk sebentar, berzikir, tidak langsung kabur. Dimaknainya bahwa hidup tidak abadi.

Adanya perubahan ini, pedagang pasar lega. Suara gaduh dan bentakan tak terdengar lagi. Setiap pagi yang kedengaran suara tegur sapa dari Rahman dan anak buahnya.

"Silahkan bapak ibu, tenang saja, kami yang jaga keamanan," ujar Rahman sopan. Suasana pasar terasa adem dengan perubahan Rahman dan anak buahnya.

Menjelang siang, saat matahari mulai meninggi, warga Pasar Penumbuk gempar, ada kabar Rahman meninggal dengan posisi sujud saat shalat dhuha di masjid pasar, senyumnya manis sekali.

Bang Udin, modin masjid yang lihat Rahman pertama kali, merasa heran mengapa sujud Rahman lama banget. Lalu ia mendekat, ternyata Rahman tak bernafas lagi. Mantan preman itu telah pergi.***

* Sastrawan yang mengabdikan diri sebagai guru

Komentar

Loading...