Breaking News

Dipusatkan di Aceh Tamiang

Pemerintah Aceh Peringati Hari Aksara Internasional ke-54

Pemerintah Aceh Peringati Hari Aksara Internasional ke-54
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Rachmat Fitri saat membuka acara HAI di Tamiang, Selasa (22/10/2019).

KUALA SIMPANG – Pemerintah Aceh dalam hal ini Dinas Pendidikan Aceh memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) ke 54 Tahun 2019. Kegiatan tersebut di pusatkan di Tribun belakang Kantor Bupati Aceh Tamiang, mulai 22 hingga 25 Oktober 2019.

Hari Aksara Internasional (HAI) ke-54 Tahun 2019 Tingkat Provinsi Aceh, dibuka Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT, diwakili Bupati Aceh Tamiang, Mursil SH MKn, Selasa (22/10/2019).

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Bupati Aceh Tamiang, Mursil SH MKn, menyampaikan bahwa Hari Aksara Internasional merupakan salah satu momentum penting dalam agenda PBB, setelah melihat kenyataan bahwa masih banyak penduduk dunia yang tidak bisa baca tulis. 

“Saat berlangsugnya Kongres Menteri Pendidikan se-Dunia di Taheran 8 September 1965, tingkat kebutaaksaraan itu diperkirakan mencapai 40 persen. Kondisi ini terutama terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujarnya.

20191114-hai-4

Atas dasar itu, katanya, PBB menegaskan setiap tanggal 8 September diperingati sebagai Hari Aksara Internasional. Penetapan Hari Aksara Internasional itu sekaligus sebagai pertanda perlunya gerakan bersama untuk mengurangi kebutaaksaraan bagi masyarakat dunia.

“Perang melawan kebutaaksaraan ini sangat penting, sebab kemampuan membaca adalah simbol keberhasilan dalam belajar. Kemampuan membaca juga merupakan ibu bagi setiap peradaban. Bagi wilayah yang ingin maju, kemampuan membaca mutlak dibutuhkan. Itu sebabnya perang melawan buta huruf harus kita tingkatkan di seluruh bumi ini,” tuturnya.

Indonesia termasuk negara yang memberi perhatian sangat besar dalam melawan buta aksara ini. Terbukti, dari tahun ke tahun angka buta aksara di negeri kita terus menurun.

Jika pada tahun 2000 angka buta aksara itu mencapai 6 persen, sekarang menurun tajam menjadi 2,07 persen atau sekitar 3,4 juta orang. Sebagian besar warga yang tidak bisa baca tulis ini tinggal di kawasan pedesaan dan umumnya berusia di atas 50 tahun. []

Foto      : Mukhlis Sulaiman

Naskah : Tim Balai Tekkomdik Aceh

Editor    : Adhie Gunong Ceukôk

Komentar

Loading...