Breaking News

Pakar UI: Rapid Test hanya Buang-buang Duit

Pakar UI: <i>Rapid Test</i> hanya Buang-buang Duit
Rapid test (foto: repro)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia hingga kini masih menggunakan rapid test untuk deteksi dini Covid-19. Bahkan, BUMN Bio Farma mulai memproduksi alat diagnostik rapid test dalam jumlah besar untuk mengakomodasi hal ini.

Menurut anggota tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, rapid test masih diperlukan karena sejumlah alasan. Di antaranya adalah populasi Indonesia yang sangat besar, laboratorium yang masih belum merata di daerah, serta deteksi dini dan penghematan biaya.

Namun demikian, banyak pihak yang menemukan hasil negatif palsu dari rapid test. Ini berarti, rapid test menunjukkan hasil non-reaktif, namun tes swab menunjukkan hasil positif Covid-19.

Hal ini membuat ahli epidemilogi dari Fakultas Kesehatan Masyarakt Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, menyarankan agar Presiden Joko Widodo menghentikan penggunaan rapid test. "Saya sampaikan ke Pak Jokowi, mohon stop pemakaian rapid test antibodi, tidak bermanfaat, membuang biaya saja," kata Pandu seperti dilansir dari Kumparan, Jumat (26/6/2020).

Dia menegaskan, akurasi rapid test tergolong rendah. Pasalnya, proses rapid test hanya menguji antibodi, bukan langsung ke material virus seperti tes swab menggunakan metode PCR.

"Hasil rapid test tidak akurat, hanya deteksi antibodi yang lambat terbentuk. Jadi tidak sesuai dengan tujuan skrining, mendeteksi sedini mungkin penular," terang Pandu. "Harus hanya dengan PCR - orang yang membawa virus bisa terdeteksi. Stop rapid test!"

Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Doni Monardo juga sudah sempat mengakui hasil rapid test yang tidak akurat. Namun Doni juga memberikan penjelasan bahwa pemeriksaan PCR terkendala oleh tenaga lab yang masih kurang.

"Kalau dibandingkan degan penduduk 200 juta, dan kita harus datangkan 200 juta PCR, itu berapa puluh triliun uang habis," jelas Doni pada 19 April 2020 lalu. "Rapid test ternyata tidak serta merta jadi solusi. Karena banyak kasus yang setelah rapid test dan diulang dengan PCR ternyata keliru masih besar. Meski rapid test sudah dilakukan, kita akan lakukan upaya PCR."[]

Komentar

Loading...