Breaking News

Pakar Nuklir: Pendirian PLTN Terhambat Politik

Pakar Nuklir: Pendirian PLTN Terhambat Politik
Geni Rina Sunaryo (foto: repro)

JAKARTA – Seorang pakar nuklir Indonesia, Geni Rina Sunaryo, merasa tidak bisa berbuat banyak setelah kembali ke Tanah Air. Wanita ini merasa seakan ilmu yang dipelajari selama 6 tahun belajar di Jepang sia-sia, karena terhambat persoalan politik.

Dalam sebuah wawancara dengan wartawan detikcom, Geni menceritakan, pada 1988 hingga 1994 ia belajar nuklir di Universitas Tokyo, Jepang. Bertahun setelah kembali ke tanah air ia menyadari beum bisa menerapkan ilmunya di sini. Ibarat tentara, ia tidak memiliki senapan.

Dia menjelaskan, ilmu dan titel doktor yang disandangnya nyaris tak berguna karena tak dapat didayagunakan dengan optimal. Cita-citanya mewujudkan mimpi Presiden Sukarno untuk memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang dicanangkan sejak 1956 kandas. Ia menuangkan keluh-kesahnya dan viral di media sosial. "Ini bukan hanya suara saya, ini suara seluruh peneliti di Indonesia," kata Geni kepada detik.com di ruang kerjanya Kantor Badan Atom Nansional (Batan), Serpong, Senin (17/2/2010).

Geni menyebut PLTN merupakan jawaban untuk memenuhi kebutuhan energi di tanah air. Nuklir dapat melengkapi dan mengikat berbagai sumber energi yang digunakan saat ini seperti air, panas bumi, batubara, matahari, dan angin.

Berbagai studi telah dilakukan bekerja sama dengan para ahli dari sejumlah negara adidaya di bidang nuklir seperti Italia, Prancis, Amerika, dan Jepang. Ratusan pelajar Indonesia telah dikirim mempelajari nuklir di banyak negara.

Dari 19 syarat pendirian PLTN, kata Geni, tinggal satu yang belum dimiliki Indonesia. Apa itu? "Komitmen politik dari pemimpin tertinggi kita," ujarnya. Ia merujuk Bangladesh yang kondisi ekonomi tak lebih baik dari Indonesia sudah mulai membangun PLTN. Arab Saudi yang punya pasokan minyak melimpah pun kini tengah membangun PLTN. "Ini artinya apa, keputusan politik kan?"

Master jurusan Nuclear Engineering dan doktor bidang System Quantumn Engineering itu meyakinkan para ahli Indonesia mampu membangun reaktor dan mengoperasikannya dengan tingkat keamanan terbaik. Geni dan timnya di Batan sudah mampu mendesain reaktor generasi keempat. Generasi pertama itu reaktor Chernobyl dan kedua di Fukushima.

Pada desain generasi keempat, secara struktural sudah memperhitungkan ancaman gempa dan bencana lain dengan lebih baik. Reaktor generasi keempat juga tak cuma menghasilkan listrik tapi juga panas.

"Panasnya ini bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas batubara, agar ketika dibakar tidak menghasilkan polusi udara. Jadi, nuklir itu bukan ancaman batubara tapi justru bisa memperkuat PLTU," papar Geni.

Bayang-bayang kecemasan akan bahaya nuklir kembali datang seiring ditemukannya zat radioaktif di lahan kosong Perumahan Batan Indah, sekitar tiga kilometer dari kantor Batan. Sejauh ini sebanyak 107 tong berisi tanah yang terpapar radioaktif telah diangkut petugas Bapeten. Sementara polisi masih menyelidiki siapa yang membuang limbah radioaktif di perumahan tersebut.

Sebagai pakar yang baru melepas jabatan Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir di Batan, Geni menjamin radioaktif itu bukan berasal dari kebocoran reaktor milik Batan. Ia menduga ada pihak yang sengaja tak mengembalikan limbah Cesium ke Batan tapi menguburnya di lahan kosong. Kemungkinan ada alasan finansial di balik perbuatan tersebut.[]

Komentar

Loading...