Breaking News

Open Relationship, bukan Selingkuh tapi Boleh Mendua

<i>Open Relationship</i>, bukan Selingkuh tapi Boleh Mendua
Ilustrasi (foto: wheninmanila.com)

KEHIDUPAN sebuah rumah tangga rentan goyah jika tidak dilandasi komitmen dan saling pengertian yang benar-benar kuat. Banyak faktor yang menyebabkan keretakan. Hal yang sepele dan bersifat klasik, misalnya, adalah komunikasi.

Jika kehidupan sebuah pasangan mulai goyah, saat itulah terjadi prahara. Terjadi pelarian atau kompensasi. Ada yang menyalahgunakan kondisi itu untuk melakukan pelampiasan. Muncullah, kemudian, istilah orang ketiga dan perselingkuhan.

Dalam interaksi hubungan yang berorientasi budaya barat dimana agama tidak menjadi sandaran, prinsip ekualitas (kesetaraan) sangat dikedepankan. Tidak dikenal pemimpin (kepala keluarga) dan orang yang dipimpin (anggota keluarga). Suami isteri memiliki relasi setara. Di situlah, sebenarnya, punca masalah.

Pola hubungan yang mengedepankan budaya seperti itu secara tidak sengaja mengabaikan nilai-nilai manusiawi itu sendiri. Meruntuhkan peradaban tinggi yang menjadi nilai mertabat kemanusiaan, bahwa tatanan kehidupan rumah tangga menjunjung tinggi kehormatan pasangan.

Di tengah peradaban yang difasilitasi kemajuan teknologi belakangan, sebagian orang dengan mudah tercerabut dari nilai-nilai moral dan agama. Di kalangan orang-orang yang masuk kategori ini, kebebasan menjadi “pakaian” sehari-hari.

Maka, bagi pasangan yang menganut “paham” kebebasan, berselingkuh tidak lagi dianggap dosa. Bahkan, dianggap sebagai sesuatu yang fair sepanjang dilakukan secara terbuka. Inilah yang sekarang dikenal dengan istilah open relationship.

Mengutip Wolipop, istilah open relationship atau open marriage populer setelah digunakan penulis Nena O'Neill and George O'Neill dalam buku mereka Open Marriage yang dirilis pada 1972. Di buku tersebut, keduanya menjelaskan istilah ini sebagai sebuah hubungan di mana masing-masing pihak memiliki ruang untuk mengembangkan diri mereka dan mengizinkan satu sama lain membangun hubungan dengan orang lain.

Riset yang dilakukan National Opinion Research Center's General Social Survey mengungkapkan 4-5% pria dan wanita setuju dengan open marriage ini. Daripada diam-diam selingkuh, mereka memilih secara terbuka menjalin hubungan dengan orang lain selain pasangan di pernikahan tersebut.

Psikolog Meity Arianty STP., M. Psi menjelaskan lebih lanjut apa arti open relationship. Menurut Meity, open relationship adalah hubungan yang memperbolehkan masing-masing pihak untuk bercinta atau berhubungan seks dengan orang lain selain pasangannya.

"Hubungan ini bersifat konsensual atau terjadi atas persetujuan kedua pihak dalam pasangan tersebut. Hubungan ini diyakini tidak melibatkan perasaan. Dengan kata lain dia bisa bercinta dengan siapa saja tapi tidak boleh jatuh cinta ke orang tersebut. Bisa di bayangkan apa yang terjadi pada pasangan yang melakukan hal ini?" ungkap Mei saat dihubungi Wolipop, Jumat (18/9/2020).

Dalam menjalani open relationship ini pastinya pasangan yang terlibat memiliki aturan tersendiri. Kata Meity aturan open relationship tergantung dari pasangan yang menjalaninya.

"Mereka membuat aturan yang paling pas buat mereka. Misal tidak boleh cemburu, tidak boleh mengatur, tidak boleh melihat handphone pasangannya, tidak boleh membahas atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Hanya boleh melakukan hubungan satu kali dengan orang yang sama, tidak boleh kencan dan melakukan hal romantis," jelas Mei.

Bahaya Open Relationship
Open relationship sendiri dianggap sebagai hubungan yang tabu di Indonesia. Selain tak sesuai dengan norma, hubungan terbuka ini juga berbahaya untuk pasangan menikah yang menjalaninya.

Bukan tidak mungkin muncul berbagai perasaan yang kemudian membuat pernikahan hancur. Misalnya saja perasaan bersalah dan berdosa sehingga pada akhirnya selalu berpikiran negatif, cemburu, curiga dan berburuk sangka pada pasangannya.

"Risiko terbesar dari open relationship ini adalah risiko penularan penyakit secara seksual," tukas psikolog yang merupakan dosen di Universitas Gunadarma itu.

Mei pun menegaskan dengan melihat pada risiko atau bahayanya, open relationship ini merupakan hubungan yang tak ada manfaatnya. "Secara umum saya katakan tak ada manfaatnya," pungkas psikolog ini.[]

Sumber: detikcom

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...