Breaking News

Jadilah Kolomnis Kanal73

Ruang untuk gagasan Anda tentang berbagai hal, seperti permasalahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau budaya.

Modeling Instructions;  Pembelajaran Abad 21

<i>Modeling Instructions</i>;  Pembelajaran Abad 21
Ilustrasi (foto: Tinta Pendidikan Indonesia)

Program short course guru keluar negeri yang diselenggarakan oleh P4TK IPA Bandung telah memberi pengalaman bagi sejumlah guru Indonesia. Lewat program ini, guru-guru dapat mengadopsi model pembelajaran abad 21 yang sedang gandrung dewasa ini. Salah satu adalah modelling Instructions(MI).

Bagi yang awam tentu akan bertanya-tanya, model apakah ini? Sebenarnya MI juga merupakan wahana penerapan Inquiry Base Learning (IBL), sebuah metode pembelajaran berbasis inquiry. Dalam metode ini, siswa mengkonstruksikan sendiri ilmu berdasarkan pembelajaran penemuan konsep yang telah dipelajari. 

Ada banyak model pembelajaran berbasis inquiry yang sedang ngetrend saat ini di kalangan guru-guru. Model ini dikenal sebagai pembelajaran abad 21.

Di Jepang, selain memahami MI, para guru juga dikenalkan dengan PhET simulation. MI sendiri dikembangkan oleh Professor Collen Megowen Romanowicz dan Chantell Dooley Ph.D  dari Arizona University. Sedangkan PhET Simulation diperkenalkan oleh Profesor Ariel J Paul dari Colorado University.

Sebagai tindak lanjut belajar di Jepang, peserta program short course wajib melakukan diseminasi apa yang telah diperoleh selama belajar di sana, baik di sekolah maupun lewat forum di MGMP. Penulis sudah menerapkannya pada beberapa forum pertemuan di Aceh Besar.

Diseminasi pembelajaran yang menerapkan MI ini telah dilakukan di forum MGMP Biologi Aceh Besar bertempat di SMAN 1 Darul Imarah. Komunitasguru Biologi Aceh Besar bergabung untuk melihat langsung dan merasakan sendiri pengalaman belalajar dengan menggunakan model ini.

Gambar di bawah ini memperlihatkan bagaimana guru menggunakan worksheet life chalanges dari Ms. Chantall Dooley Ph.D.

20190425-mi-1

20190425-mi-2

Hal yang sama juga telah dilakukan di SMAIT Darul Ulum Umar Faruq di kelas X pada pembelajaran Kingdom Animalia menggunakan worksheet Animalia card.

20190425-mi-3

20190425-mi-4

Modelling Instructions memilki ciri khas, yakni:

1.     Penggunaan whiteboard dalam kelompok kecil (max: 4 orang 1 kelompok)

2.     Penggunaan spidol berwarna untuk menuliskan perpektif kelompok

3.     Presentasi

4.     Brainstorming (bertukar ide)

5.     Pembelajaran Active Learning

6.     Guru bertindak sebagai fasilitator ( Teacher not Teaching but Guiding)

7.     Siswa menemukan sendiri Konsep materi

8.     Penggunaan worksheet (LKS) yang di disain minim instruksi dari guru.

Dari ciri khas tersebut, pembelajaran akan berlangsung sangat aktif dimana guru murni bertindak sebagai fasilitator, hanya mengarahkan agar jalan pikiran yang dikonstruksikan oleh siswa berada dalam relnya.

Siswa akan berbicara berdasarkan apa yang mereka tuliskan di white board yang merupakan hasil dikusi kelompok.

Diskusi yang terjadi merupakan hasil dari CER ( Claim, Evidence, Reason). Artinya, siswa bertanggung jawab atas keputusan perspektif/ kesimpulan hasil diskusi yang dituliskan di white board. Kemudian, mereka bisa menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan data, sehingga mereka mampu mengutarakan sebab mengapa keputusan tersebut diambil.

Aktivitas inilah yang disebut ber-inkuiri. Inquiry atau pembelajaran penemuan sebenarnya adalah inti dari sains.

Berbicara tenang sains, artinya tidak sekedar ungkapan kata atau kalimat yang masih berupa asumsi. Sains dikuatkan dengan bukti-bukti fisik serta data yang terkumpul dan kesimpulan yang bernas (kesimpulan yang bisa dipertanggungjawaban kesahihannya).

Testimoni dari para siswa yang telah mengikui pembelajaran dengan metode ini menyatakan, mereka sangat menyukai model pembelajaran MI. Siswa merasa sangat menyenangkan belajar dengan metode ini. Bagi mereka, ini sebuah hal yang menarik karena mereka merasa sangat terlibat dalam proses pembelajaran. Dari awal hingga akhir mereka yang mendominasi kelas.

Melalui metode MI, para siswa merasa pemikirannya dihargai dan menjadi bahan untuk didiskusikan. Mereka merasa, konsep yang didapat itu benar-benar berasal dari pemikiran mereka sendiri.

Dalam praktek di kelas, mereka menyusun gagasan secara berkelompok. Jalan pikiran yang dibangun berasal dari potongan-potongan puzzle pemikiran mereka yang berasal dari berbagai kelompok. Dari hasil diskusi, potongan-potongan puzzle itu pelan-pelan terbentuk sempurna di akhir diskusi kelas.

Penggiringan opini yang dilakukan oleh satu kelompok ketika presentasi bisa saja berbenturan dengan kelompok lain. Di sinilah dibutuhkan peran guru. Siswa harus mendapat pemahaman bahwa debat yang dilakukan bukan untuk saling menjatuhkan antarkelompok, melainkan untuk membentuk konsep berdasarkan data yang diambil.

Ketika data yang diambil sama namun masih ditemui perbedaan persepsi, inilah yang perlu didiksusikan hingga akhirnya menemukan titk terang.  Titik terang bersama ini adalah proses HOTS (Higher Order Thingking). Lewat diskusi, pemikiran siswa akan terbawa, mulai dari level rendah atau C1 hingga level tinggi C5 atau C6.

Bekal inilah sebenarnya yang seharusnya terus-menerus diasah di dalam kelas. Sehingga, diharapkan ketika mereka lulus kelak, para siswa telah memiliki skill of thingking (kemampuan berpikirnya terlatih).  Selain itu, melalui MI juga dapat diterapkan formula 4C kepada siswa, creative, critical thingking, collaboration, dan communication.

Creative (kreatif): dengan memberikan spidol beraneka warna merangsang siswa untuk berkreasi di white board. Mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan semua imajinasinya terwakili oleh spidol warna warni

Critical Thingking (berpikir kritis): ketika brainstorming atau bertukar ide saat diskusi kelompok maupun diskusi kelas akan terbangun dan terlatih kemampuan berpikir kritisnya untuk mencari solusi atas permaslahan yang ada

Collaboration (kolaborasi): amat terlihat ketika diskusi kelompok maupun diskusi kelas aura yang terbangun adalah bersama-sama mencari solusi atau menemukan konsep yang sedang dipelajari. Bukan terpusat pada kompetisi kelompok mana yang terbaik namun lebih kepada bagaimana pemikiran-pemikiran antar kelompok bisa saling melengkapi sehingga terbentuk konsep yang utuh.

Communication (komunikasi): terlihat dengan nyata kemampuan berkomunikasi yakni merangkai kata ataupun mengutarakan ide dalam bentuk kalimat sehingga bisa dimengerti oleh lawan bicara atau dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Karena dalam MI ini dituntut untuk mempresentasikan ide kelompok dan mengkritisi ide dari kelompok lain sehingga mutlak komunikasi menjadi hal yang sangat krusial dalam penerapan pembelajaran MI ini.

Bagi guru, MI akan membantu mengefektifkan penggunaan waktu. Guru juga tidak menghabiskan banyak tenaga untuk berbicara di dalam kelas karena telah terwakili oleh dominansi siswa. Guru tidak cepat lelah dengan jumlah jam mengajar yang padat. Namun diperlukan pemikiran ekstra ketika hendak membuat worksheet atau LKS agar pembelajaran mencapai target.

Usahakan LKS yang dibuat tidak menuntun siswa bekerja layaknya membuat suatu masakan. Guru yang membuatkan resepnya sehingga siswa hanya mengikuti arahan atau petunjuk yang sudah dibuat. Tanpa berpikir atau siswa hanya seperti robot yang mengerjakan apa yang diperintahkan saja. Namun sebisa mungkin LKS tersebut dapat membuka cakrawala berpikir yang luas bagi siswa dan mereka sendiri yang menemukan tujuan pembelajaran yang diinginkan guru.

Berdasarkan apa yang telah diaplikasikan sepulang dari Jepang, terbukti kecakapan abad 21 atau yang biasa dikenal dengan life skill abad 21 lewat MI ini bisa dikembangkan. Semoga dengan pelatihan guru ke luar negeri bisa memberikan kontribusi berarti bagi kemajuan pendidikan di Indonesia sehingga generasi emas yang dicita-citakan, sukses membawa Indonesia menuju generasi gemilang 2045.*

Rujukan: https://modelinginstruction.org/

* Mira Fitriana S.Si, guru SMA Negeri Modal Bangsa, Aceh

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!

Komentar

Loading...