Breaking News

Mak Otot Pujangga

Mak Otot Pujangga
Ilustrasi (foto: repro)

Sudah dua Jumat dengan hari ini, Mak Otot -- biasa aku memanggilnya -- tidak bisa melaut. Tiupan angin barat diiringi ombak besar membuat ia menambatkan perahu di bibir pantai. Perahu bantuan Dinas Perikanan itu nganggur, termasuk ia juga ikut menganggur. 

Seharian Mak Otot cuma bisa tiduran sambil sesekali melihat perahu yang ditutup daun kelapa agar tidak retak ditelan matahari dan hujan, setelah itu sambil membunuh kebosanan ia baca buku roman peninggalan ayahnya. 

Membaca buku sastra, kebiasaan Mak Otot sejak SMP. Beberapa buku lama seperti Salah Asuhan, Di Bawah Lindungan Kakbah, dan Tenggelamnya Kapal Van Derwijck sering aku lihat tergeletak di lantai rumahnya. Aku duga buku itu sudah ribuan kali dibacanya, tanpa bosan.  Mak Otot sering menceritakan isi buku pada anak-anak yang main layangan di halaman rumahnya.

Intin, istri Mak Otot sudah beberapa kali ngomel, "Kerjalah, bang, jangan cuma tidur dan baca melulu. Abang boleh saja nganggur, enakan tidur, tapi perut tak bisa tidur," umpat Intin kesal sambil mematikan TV satu-satu kekayaan mereka yang masih tersisa. Sepeda motor lambang status mereka pun sudah dilego menutup utang pada Mak Coman, pemilik kios kelontong tiga bulan lalu.

Mak Otot yang lagi rebahan, begitu mendengar ocehan Intin, perempuan berwajah jerawatan itu tersentak, ia tatap Intin dengan dada gemuruh, ia coba bertahan agar marahnya tidak meluap.

"Angin dan ombak laut belum begitu ramah buat kita, dik," Mak Otot beri alasan dengan lirih seperti seorang pujangga

Di kampung nelayan ini semua orang paham, kalau Mak Otot bicaranya selalu tersilip kata-kata sastra, enak kali dengarnya. Entah dari mana ia belajar, aku tak tahu. Yang aku ketahui, di kampungku ada dua nama Otot, satu Otot tukang tambal ban, satu lagi Otot Pujangga. Mungkin karena suka baca buku satra, sehingga ia bergelar Otot Pujangga.

"Tapi aku dan anak-anak butuh makan, bang. Beras sudah habis, anak-anak butuh jajan," sambil mengetok kaleng beras yang tak berisi lagi.

"Teng, teng, teng! " suara kaleng menggelegar.

Mendengar bunyi kaleng bekas cat tempat menyimpan beras ditabuh Intin, darah Mak Otot tersirap, lalu dengan kesal, tanpa bicara ia ambil peralatan yang biasa digunakan ke laut bergegas meninggalkan Intin yang terus mengomel. Ditentengnya jeregen minyak kosong menuju kios Mak Coman tanpa menoleh pun ke arah Intin. Ia paksa dirinya melaut walau cuaca berkabut dan angin rada keras. 

Lelaki yang tak berotot, walaupun namanya Otot mampir di kios Mak Coman, mau ngutang bahan bakar untuk perahunya. Ujung mata Mak Otot sempat melirik deretan catatan hutang yang berbaris di buku kumal milik Mak Coman.

"Hati-hati, bang," Mak Coman mengingatkan Mak Otot tanpa sedikitpun menyoalkan utangnya. Ia cuma mengangguk sambil permisi pamit.

Setelah mesin perahu bantuan itu berbunyi, Mak Otot mengarahkan kepala perahu ke muncung kuala. Riak ombak mulai terasa, angin laut menampar wajah, beberapa butir air lekat dibibirnya. "Hem, asin," Mak Otot meludah ke kiri.

Sekitar seratus meter lagi perahu akan tiba di muncung kuala. Kecepatan diperlambat, karena kuala sedikit dangkal dan berombak.

Keadaan Kuala, nelayan sudah berulang kali menyurati dinas terkait untuk menggalinya, bahkan mereka telah berunjuk rasa ke kantor wakil rakyat sambil menenteng kipas dan peralatan perahu yang rusak akibat kuala yang dangkal. Tapi kuala tak kunjung diperdalam, masih seperti semula. Kabarnya, kuala itu sudah menelan korban.

Perahu Mak Otot telah sampai di tengah kuala, hampir keluar, tapi tiba-tiba saja dari depan, dua buah ombak besar bergulung menghadangnya, menyusul ombak lain.

"Bum, bum," suara ombak pecah. Perahu Mak Otot berputar, oleng seperti gadis menari. Kepala perahu berbelok, lalu dengan cepat ia arahkan perahu masuk kembali ke mulut kuala. Nyaris saja terbalik. Jantung Mak Otot bergetar kencang, tubuhnya lunglai akibat tamparan ombak yang tiba-tiba.

Dengan muka tanpa darah, Mak Otot mengarahkan perahu masuk ke muara, walau telah terisi air. Ia sempatkan bersyukur mesin perahu tidak mati. Kalau saja macet, tak terbayangkan apa yang terjadi.

" Alhamdulillah," gumamnya.

Berjalan pelan, air yang berenang diperahu dibuangnya menggunakan batok kelapa. Dengan tangan kiri memegang tongkat kayu yang dijadikan stir, lambat-lambat ia tinggalkan kuala dengan tubuh gemetar.

Mak Otot kapok, menyesal mengikuti saran Intin melaut dalam cuaca garang. Sambil membuang air di perahunya, ia katakan, tak akan lagi menggubris apapun yang disampaikan Intin. Mak Otot lebih sayang pada nyawa dan masa depan Linda dan Amiril, dua anak kembarnya.

"Aku tidak mau mayatku mengambang di laut memperturutkan omongan Intin,"

ujar Mak Otot sendu.

"Tapi berapa lama lagi aku nganggur, sedang Intin sudah ngomel, tak sabaran," Mak Otot ragu dengan tekadnya. Sedangkan utang semakin menumpuk.

Ia tahu, pagi sebelum melaut, Intin sudah ke kedai Mak Coman ngutang lagi, tapi jawaban Nuri, istri Mak Coman yang saat itu menjaga kios, beras sudah habis.

Intin terpaku diam, di depan matanya ada tiga karung teronggok, tapi ia tak bisa pastikan beras atau gula.

"Teronggok itu gula," ujar Nuri masam seakan membaca keraguan Intin.

Lagi-lagi Intin terpaku terdiam, tidak membantah, ia  mengangguk membenarkan jawaban Nuri, walau jawaban itu meragukannya.]

* Sastrawan yang mengabdikan diri sebagai guru

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...