Breaking News

Kondisi Pendidikan Anak di Lokasi Transmigrasi Memprihatinkan, Babinsa Jadi Guru Bantu

Kondisi Pendidikan Anak di Lokasi Transmigrasi Memprihatinkan, Babinsa Jadi Guru Bantu
Ilustrasi sebuah kawasan pemukiman transmigrasi. (sumber foto: Bisnis Sumatera)

BANDA ACEH – Instansi terkait di daerah diminta memperhatikan kebutuhan layanan pendidikan bagi anak-anak yang ada di lokasi transmigrasi dan pedalaman. Sebab, hingga sejauh ini, banyak anak yang bermukim di lokasi tersebut belum mendapatkan layanan pendidikan yang layak.

Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Transmigrasi pada Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh, Ir Syamsul Kamal, dalam wawancara dengan portal kanal73 di kantornya, Senin (11/2/2019). Ia menyatakan prihatin melihat banyak anak usia sekolah di kawasan transmigrasi yang belum mendapatkan layanan pendidikan, padahal itu menjadi hak anak sebagai warga negara.

Syamsul yang berbicara atas nama Kepala Disnakermobduk Aceh mengatakan, anak-anak di kawasan transmigrasi hingga sejauh ini belum mendapatkan layanan pendidikan yang layak karena di banyak lokasi transmigrasi tidak terdapat sekolah. Kalau harus bersekolah di desa  sekitar lokasi transmigrasi juga sulit, karena letaknya sangat jauh.

Ia berharap instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan kabupaten bisa mengambil inisiatif untuk membangun sekolah di daerah-daerah terpencil, sehingga anak-anak di sana bisa mendapatkan layanan pendidikan.  “Agar anak-anak bangsa mendapat hak yang sama seperti anak-anak di tempat lain,” ujar Syamsul.

Ia mengaku prihatin melihat kondisi ini. Dulu, kata Syamsul, pihaknya pernah mencoba untuk membangun sekolah di lokasi transmigrasi tapi tidak berhasil karena terkendala persoalan regulasi. “Kita sudah mulai membangun, tapi dulu tidak boleh.  Sekarang sudah boleh dibuka SD Persiapan. Kalau dulu, untuk tempat belajarnya harus memakai gudang. Tidak boleh bangun banyak cuma 3 kelas,” ujarnya kepada Julian dari kanal73.

Syamsul menerangkan, SD Persiapan dikhususkan untuk anak-anak yang bemukim di pelosok yang jauh dari desa tetangga. Di sekolah-sekolah tersebut, katanya, proses belajar mengajar berlangsung dalam kondisi apa adanya. “Masih mengunakan guru bantu dari kalangan warga trans sendiri, Babinsa, volunteer atau relawan,” katanya.

Syamsul berkata, dengan kondisi yang serba terbatas tersebut sulit membayangkan bagaimana masa depan generasi yang bermukim di kawasan pedalaman. “Kita tidak tahu ke depan akan menjadi apa anak tersebut. Mungkin di antara mereka ada yang akan menjadi presiden, menteri, dan sebagainya,” ucap Syamsul.[K73-C01]

Komentar

Loading...