Internet di Papua Mati Total, Universitas Terapkan PBM Tatap Buka

Internet di Papua Mati Total, Universitas Terapkan PBM Tatap Buka
Aksi demo mahasiswa Universitas Papua menolak belajar daring beberapa waktu lalu (foto: papuabaratnews.co)

KANAL73.com – Jaringan internet di Papua dilaporkan mengalami gangguan serius sejak akhir April lalu. Akibatnya, proses belajar mengajar (PBM) jarak jauh menggunakan internet ditiadakan. Kampus terpaksa menerapkan PBM secara tatap muka.

Agus Rumpeday, seorang mahasiswa Universitas Cendrawasih, mengakui bahwa koneksi internet di Kota Jayapura, Papua, dan beberapa kota lainnya mati total sejak 29 April. Kondisi tersebut mengganggu perkuliahan. "Udah mati [internet] sejak tanggal 29 April. Tidak tahu kenapa," kata Agus kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (15/5/2021).

Ia bercerita, bahwa sistem kuliah yang digelar secara daring di Universitas Cendrawasih akibat pandemi Virus Corona sudah tak diberlakukan usai internet mengalami gangguan di Jayapura.

Kampusnya, terang Agus, kini memberlakukan pembelajaran tatap muka langsung secara terbatas. "Kita awalnya kuliahnya online. Jadinya kita tak bisa kuliah online lagi. Kita kembali ke kampus beberapa tatap muka. Tapi dibatasi. Sistem sif bergantian," katanya.

Agus menjelaskan, gangguan internet bukan hanya mengganggu perkuliahan daring. Tapi juga menimbulkan kesulitan bagi mahasiswa dalam mencari rujukan ilmiah di internet untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Ia mengaku belakangan ini hanya mengandalkan sumber berupa buku atau jurnal yang sudah tersedia di perpustakaan kampus.

"KRS (kartu rencana studi) terhambat, kuliah online terhambat, tugas juga. Kita jadinya cari-cari untuk kerjakan tugas tak lagi mencari di internet. kita andalkan buku-buku di perpustakaan kampus. Karena tak ada lagi internet," kata dia.

Secara terpisah, Sekjen Dewan Adat Papua, Leo Imbiri, mengatakan, internet di Kota Jayapura sudah tiga pekan belakangan ini mengalami mati total. "Iya betul. Sudah memasuki tiga minggu tak ada internet," kata Leo.

Tokoh ini bercerita bahwa dirinya dan masyarakat yang berada di Jayapura tak bisa melakukan kegiatan yang mengandalkan koneksi internet.

Bahkan, ia mengatakan bahwa sinyal telepon sempat mati selama 3-4 hari berbarengan dengan matinya internet tersebut. Kini, sinyal untuk telepon sudah pulih seperti sedia kala.

"Sebelumnya lancar. Kita bisa komunikasi ke mana saja. Nah, 3 minggu lalu, internet dan telepon berbarengan mati mendadak. Nah telepon baru bisa hidup lagi empat hari kemudian dari kejadian itu," kata dia.

Lebih lanjut, Leo mengatakan dirinya tak bisa berkomunikasi dengan siapapun ketika telepon dan internet mati berbarengan. Kini, ia mengaku hanya bisa mengandalkan komunikasi via telepon.

Media sosial yang mengandalkan internet, katanya, sama sekali belum bisa dilakukan. "Itu saya pertama pikir orang-orang yang saya telepon enggak mau angkat telepon saya. Tapi pas saya cek baru mereka beri tahu wilayah mereka enggak bisa terima telepon," tambahnya.

"Empat hari awal-awal itu saya tinggal di rumah aja. Atau ke kantor ya ke kantor, kerjakan yang bisa aja. Di kantor juga pada akses komunikasi mati total saat itu," kata dia.

Leo mengaku sudah melayangkan keberatannya kepada pihak Telkom terkait matinya akses internet di Jayapura. Ia menegaskan bahwa semua orang di Jayapura memiliki hak untuk berkomunikasi satu sama lain.

"Intinya enggak bisa ngapain-ngapain. Saya sudah bertanya-tanya ke Telkom gimana ini. Kita butuh komunikasi untuk komunikasi," kata dia.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Emanuel Gobay turut mengkonfirmasi hal serupa. Ia mengaku sudah mengirimkan somasi ke PT Telkom yang berada di Kota Jayapura terkait matinya internet di kota tersebut. "Sudah kita kirimkan Somasi ke PT Telkom Jayapura. Namun belum ditanggapi," kata Gobay.

Di tempat terpisah, Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Dedy Permadi mengatakan gangguan internet itu terjadi akibat putusnya Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) ruas Biak - Jayapura. Pergeseran lapisan bumi dasar laut disebut sebagai penyebabnya.

"Pihak Telkom mengonfirmasi adanya gangguan layanan sejak tanggal 30 April 2021 karena putusnya SKKL ruas Biak - Jayapura dengan titik lokasi 360 km dari Jayapura," kata Dedy dalam keterangan resminya yang dikutip di situs Kominfo, Sabtu (15/5).

Senada, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menjelaskam gangguan layanan telekomunikasi terjadi karena kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Indonesia Barat dan Indonesia Timur di Utara Jayapura terputus di kedalaman lebih dari 4000 hingga 4050 meter di dasar laut.

"Kami terus berusaha bersama operator seluler dan operator fiber optik bawah laut untuk memulihkan transmisi data dari kawasan barat ke kawasan timur dengan pemanfaatan microwave link, radio link dan berbagai sarana yang lain," kata dia.[]

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...