Breaking News

Gerakan Anti-Dolar Menguat, Dinar Emas Bakal Jadi Mata Uang Global

Gerakan Anti-Dolar Menguat, Dinar Emas Bakal Jadi Mata Uang Global
Mata uang Dinar dan Dirham (foto: repro)

Jakarta – Senitimen terhadap mata uang dolar (dedolarisasi) semakin menguat di dunia. Gejala ini tidak hanya menjadi milik negara tertentu. China, misalnya, termasuk negara yang gencar memerangi ketergantungan pada dolar.

Kampanye “ayo buang dolar” semakin menguat akhir-akhir ini. Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China secara diam-diam telah mendiversifikasi cadangannya ke dalam mata uang lain serta membangun "cadangan bayangan" atau shadow reserves.

Bukan hanya China, Rusia dan Uni Eropa juga melakukan hal yang sama. Mereka menghindari dolar AS dan menggunakan mata uang sendiri karena keharusan untuk tunduk pada yurisdiksi AS ketika mereka bertransaksi dalam dolar.

Dengan langkah yang dilakukan banyak negara ini, sejumlah negara Islam kini mempertimbangkan untuk menjadikan emas sebagai alat pembayaran internasional. Konsep yang akan dipakai adalah sistem barter. Gagasan tersebut pertama kali diperdebatkan sekitar tiga dekade lalu pada puncak Krisis Keuangan Asia (AFC).

Alasan rencana penerapan ide tersebut tidak lain karena dolar AS semakin tidak stabil, dan terpapar pada fluktuasi nilai untuk melayani sebagai mata uang internasional utama.

Negara-negara tersebut antara lain Malaysia, Iran dan Qatar. Dalam Islamic Summit yang digelar akhir pekan kemarin, cara ini bisa jadi senjata negara Muslim untuk bertahan dari embargo ekonomi yang dilancarkan negara barat.

"Keputusan sepihak dengan menjatuhkan sanksi, hal itu dapat berlaku pula pada kita," kata Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad seperti dikutip Reuters.

Iran terkena sanksi Amerika Serikat (AS) karena dianggap masih terus melakukan pengembangan nuklir. Sementara Qatar mengalami pemutusan hubungan diplomatik dengan sejumlah negara Arab yang menjadi aliansi AS, karena dituduh membiayai teroris.

"Saya menyarankan agar kita melihat kembali gagasan perdagangan menggunakan dinar emas dan perdagangan sistem barter di antara kita. Kami serius melihat ini," katanya.

KTT Negara Islam Dunia membahas sejumlah masalah yang mempengaruhi umat Islam mulai dari Palestina, Kashmir, dan nasib Muslim Rohingya di Myanmar, juga kamp-kamp China untuk Muslim Uighur di wilayah barat Xinjiang.

Terkait hal itu, sebenarnya apa itu dinar? Berikut penjelasannya dilansir oleh CNBC Indonesia dari Britannica.com

"Dinar berasal dari zaman Romawi, merupakan satuan moneter yang digunakan beberapa negara Timur Tengah. Di antaranya Aljazair, Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Libya, dan Tunisia," tulis media itu.

Satuan moneter tersebut pertama kali diperkenalkan pada akhir abad ke-7 Masehi oleh Abd al-Malik. Ia memperkenalkan dinar sebagai 'koin Islam'.
Ketika itu Dinar dikenal sebagai denarius. Bentuknya seperti kepingan logam emas.

Berdasarkan hukum Syariah Islam, dinar merupakan uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal atau setara dengan 1/7 troy ounce.

Saat ini, ada sejumlah negara yang menerbitkan dinar. Antara lain Libya, Malaysia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, koin dinar diproduksi PT Aneka Tambang Tbk. Di antaranya:

 Koin 1 Dinar Au 91,7%

Dinar ini didesain dengan gambar Masjidil Haram di bagian depan dan bertuliskan dua kalimat Syahadat di bagian belakang. Berat dari koin ini 4,25 gram dengan kemurnian Au 91,7%.

Namun Antam juga menjual berbagai spesifikasi lainnya. Misalnya Koin 1/4 dinar dengan harga Rp 682.005. Arti Au 91,7% dinar adalah koin dinar yang terbuat dari emas dengan kandungan 91,7% alias emas 22 karat. Au berasal dari kata Aurum, nama latin untuk emas.

Koin 1 Dinar FG 99,99%

Koin dinar ini didesain sederhana dengan logo khas Logam Mulia dan tulisan Fine Gold (FG). Dengan berat 4,25 gram dan kandungan kemurnian FG 99,99%, atau emas 24 karat.[]

Sumber: cnbcindonesia

Komentar

Loading...