Garuda Terlilit Utang, Karyawan Ditawarkan Pensiun Dini

Garuda Terlilit Utang, Karyawan Ditawarkan Pensiun Dini
Garuda Indonesia

KANAL73.com – Maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airwyas, dikabarkan, sedang terlilit utang mencapai Rp Rp 70 triliun. Kondisi keuangan perusahaan yang makin sulit di tengah pandemi Covid-19 membuat Garuda harus melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk kemungkinan melakukan PHK.

Meski begitu, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra memastikan tidak ada PHK meski keuangan perseroan sedang sangat sulit. Dia mengatakan telah menyampaikan tawaran pensiun dini kepada karyawan.

Dia menegaskan, bahwa yang disampaikan hanya sebatas tawaran program pensiun yang dipercepat bagi karyawan yang memenuhi kriteria. "Kita nggak PHK. kita tawarkan pensiun dipercepat sukarela. Soal implikasi PHK kita memahami sangat dan ini solusi terbaik" ujar Irfan seperti dikutip dari detikcom, Minggu (30/5/2021).

Irfan merasa perlu memberi penegasan sebagai respons terhadap imbauan Kementerian Ketenagakerjaan yang meminta maskapai pelat merah itu dan Sriwijaya Air meminimalkan PHK karyawan. Kedua perusahaan ini diminta pihak Kemnaker agar lebih mengedepankan dialog bipartit untuk mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak.

Sebelumnya telah dijelaskan Irfan, bahwa tawaran pensiun dini itu dilakukan sejalan dengan upaya pemulihan kinerja usaha yang tengah dilakukan perusahaan guna menjadikan Garuda Indonesia perusahaan yang lebih sehat serta adaptif menjawab tantangan kinerja usaha di era kenormalan baru.

Katanya, ini merupakan langkah berat yang harus ditempuh. Opsi iitu, lanjutnya, harus diambil untuk bertahan di tengah ketidakpastian situasi pemulihan kinerja industri penerbangan yang belum menunjukan titik terangnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Dikatakan, pandemi yang masih berlangsung mengharuskan perusahaan melakukan  penyesuaian aspek supply & demand di tengah penurunan kinerja operasi imbas penurunan trafik penerbangan yang terjadi secara signifikan.

Demand yang rendah, katanya, berpengaruh pada keuangan perusahaan. Selain itu, Garuda juga dilaporkan memiliki utang sekitar Rp 70 triliun, utang itu disebut akan meningkat sekitar Rp 1 triliun setiap bulannya karena Garuda terus menunda pembayaran.

Saking banyaknya utang tersebut, Garuda Indonesia disebut berada dalam posisi keuangan terburuk selama satu dekade. Memiliki arus kas negatif dan ekuitas minus Rp 41 triliun rupiah, Dengan kondisi itu, apabila Garuda gagal melakukan program restrukturisasi, bisa membuat maskapai dihentikan secara tiba-tiba.

Namun, Irfan enggan berkomentar banyak saat dikonfirmasi mengenai laporan ini. Dia hanya mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang fokus mengurus program pensiun dini yang baru saja ditawarkan kepada karyawan.[]

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...