Breaking News

Festival Para Pembohong

Festival Para Pembohong
Ilustrasi (foto: repro)

Malam semakin larut. Ruko di sekitar lokasi kantor LSM Mitra, tempat pendaftaran peserta Festival Para Pembohong, pun sudah ada yang tutup. Namun agak berbeda, di LSM Mitra, menjelang deadline pukul 00.00 Wib, ternyata masih ramai yang ngantri untuk mendaftar.

Hendra sebagai jurnalis TV yang biasa meliput kegiatan aneh-aneh juga  heran, tak menyangka festival yang durasi pendaftarannya cuma seminggu itu ramai peminat.

Bermacam kelas sosial ikut sebagai peserta. Mulai anak sekolahan yang kerap membohongi ibu mereka -- katanya butuh uang untuk beli buku, nyatanya dipakai main game, ada emak-emak yang doyan chatting hingga dini hari  dengan lelaki lain, suami tukang dusta pada istrinya, bendaharawan kantor suka sulap kwitansi, sampai wakil rakyat dan beberapa orang calon kepala daerah yang gagal saat pemilu lalu, tak luput ikut meramaikan bursa calon perebut Piala Boneka Pinokio itu. Pokoknya yang pernah merasakan nikmatnya berbohong meramaikan festival itu. Hadiahnya apa?

Iya, hadiahnya luar biasa, pemenang akan mendapat tropy bergambar Boneka Pinokio berhidung mancung yang dilapisi emas ditutupi dengan kaca anti peluru, agar tidak mudah digondol para maling. Spektakuler hadiahnya. Piala pinokio itu berdiri manis di sisi kanan tempat pendaftaran.

Untuk menjawab rasa penasaran dan dahaga pemirsa, Hendra berhasil mewawancarai seorang emak-emak yang baru selesai mendaftar di detik-detik penutupan.

Ibu Kelelawarati, namanya. Tapi si ibu tak mau wajahnya di-shot kamera. Hendrapun berulangkali membujuk dan meyakinkan, wajahnya tak akan dikenal pemirsa. Setelah cukup yakin, perempuan separoh baya itu setuju untuk di interviu.

"Apa yang mendorong ibu ikut festival ini," tanya Hendra setelah memperkenalkan diri sebagai salah satu jurnalis TV yang sering memuat berita gosip.

"Alasannya banyak. Tapi cukup satu  ya, aku sering nipu teman chatting dengan mengatakan aku masih gadis, single, butuh teman kencan pada hal Anda bisa tebak berapa usiaku kini," ujarnya sambil tertawa cekikikan.

Mendengar jawaban Kelelawarati, Hendra senyum masam sambil menyodorkan pertanyaan berikutnya.

"Alasan lain?" tanya Hendra penasaran.

"Aku ini ratu bohong, setiap doi dinas luar, kumanfaatkan untuk chatting dengan pria hidung belang. Ketika suami bertanya, ngapain larut malam belum tidur. Aku jawab chatt dengan adik dan teman group. Ternyata bohongku diterimanya, padahal aku tahu dia juga sedang berbohong ama aku," jawab Kelelawarati terus tertawa.

"Dasar sama-sama pembohong," kutuk Hendra di hati.

"Ibu yakin menang?

"Seribu persen," jawabnya pasti.

Di tengah malam buta itu, Hendra juga berhasil mewawancarai seorang mantan wakil rakyat yang wajahnya juga tidak mau ditampilkan.

Tokoh yang tak mau disebutkan namanya itu, ikut festival hanya untuk membuktikan kemampuan dan kelihaiannya dalam berbohong.

"Aku ingin ungkapkan nanti pada juri, apa-apa saja kebohongan yang biasa aku lakukan semasa duduk di kursi empuk itu."

"Apakah salah satunya pembuatan espepede fiktif ? "

"Ha...ha, itu modus kecil," mantan anggota dewan menjentikkan jarinya.

"Modus besarnya ?" cecar Hendra dengan pertanyaan berikutnya.

Lelaki bergaya ABG ini tak menjawab, cuma tersenyum sambil berlalu.

"Nanti,  aku beberkan saat lomba," lanjutnya melambaikan tangan.

Malam semakin larut. Loket pendaftaran sudah tutup. Hanya tinggal beberapa orang panitia masih beres-bereskan surat dan mengatur kursi.

Di pojok meja berbentuk bundar, Hendra melihat dua orang  masih asik ngobrol dengan cangkir kopi di depannya. Hendra memastikan mereka panitia kegiatan ini. Ia coba mendekat, ingin menggali informasi sekaligus konfirmasi isi brosur festival yang ia peroleh di meja panitia.

"Kalau boleh tahu, apa yang jadi latar belakang diadakan festival ini," tanya Hendra setelah memperkenalkan diri kepada mereka.

"Oh ya, Anda tahu daerah ini, sangat banyak orang jujur. Begitu banyaknya hingga kebohongan dan dusta nyaris tidak ada lagi. "

"Lantas ?” sambung Hendra ingin tahu.

"Karena kebohongan dan dusta sudah tak ada, sehingga menjadi barang langka, sulit ditemukan, kami ingin buktikan apa benar atau tidak."

"Hanya itu ?"

"Tidak. Ada yang lain, sesuatu yang langka itu biasanya perlu dilestarikan. Jangan sampai punah."

"Artinya, di zaman ini kebohongan sesuatu yang diperlukan ?" todong jurnalis muda itu ingin tahu.

"Di saat kejujuran telah jadi ideologi, lalu musnah di permukaan bumi ini, suatu saat orang akan rindu dengan kebohongan. Karena itu kami akan gali kembali jenis kebohongan yang dilakukan itu," jawab Andri yang mengaku ketua festival para pembohong ini.

"Bukankah kejujuran itu perlu ?"

"Sangat, bahkan dibutuhkan." Andri mengakhiri jawabannya.

Sebenarnya Hendra masih penasaran, banyak hal yang ingin ditanyakan. Tapi kelihatannya Andri dan temannya sudah beberapa kali menguap, ia segan meneruskan pertanyaan, nanti dianggap  tidak beretika.

"Satu pertanyaan lagi, bung," kejar Hendra sambil mengarahkan mick ke depannya.

"Bagaimana instrumen penilaian, untuk mengetahui bahwa mereka betul-betul berbohong."

"Kami akan minta peserta, untuk menceritakan kebohongan yang pernah dan sedang mereka lakukan saat ini sesuai dengan waktu yang tersedia. Dari setiap jawaban ada indikator dan skornya. Dari situlah kita menilainya," Andri mengangkat tangannya, sebagai isyarat cukup.

Hendra meihat Andri sudah beberapa kali menguap.

"Oke,terima kasih, Bung."

Sambil menenteng kamera, Hendra melangkahkan kaki ke tempat parkir. Ia berpikir, apakah betul-betul kebohongan sesuatu yang langka saat ini, atau barangkali, orang-orang sudah terlalu sulit membedakan mana kebohongan dan mana kebenaran. Sebab banyak bohong saja telah dijadikan kebenaran. Kepalanya puyeng memikirkan itu.

"Bagusnya pulang, tiduuur!" Hendra teriak kecil.

* Sastrawan yang mengabdikan diri sebagai guru

Komentar

Loading...