Breaking News

Duh, Ada Mamah Muda di Aceh yang Jadi PSK

Duh, Ada Mamah Muda di Aceh yang Jadi PSK
Ilustrasi PSK yang ditangkap Satpol PP Jakarta (foto: repro)

BANDA ACEH – Ini kabar tak enak. Sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang perlindungan perempuan dan anak di Aceh menemukan fakta miris, sejumlah wanita muda bersuami di daerah ini kerja sambilan (nyambi) sebagai PSK. Parahnya lagi, ada yang mengidap penyakit berbahaya.

Adalah pimpinan Yayasan Permata Atjeh Peduli (YPAP) Chaidir yang mengungkap fakta ini. LSM tersebut ,kabarnya, telah sejak lama berkecimpung dalam soal pendampingan terhadap wanita yang mengalami berbagai masalah sosial. Antara lain, mereka melakukan pendekatan terhadap wanita penderita HIV/AIDS

Ikhwal ada wanita muda bersuami yang suka menjajakan diri diketahui ketika YPAP melakukan pendataan PSK yang terinfeksi HIV/AIDS. Ternyata sejumlah wanita muda tersebut merupakan ibu rumah tangga (mamah) muda.

Kepada wartawan, Chaidir menjelaskan, lembaganya melakukan pendampingan di enam daerah, yaitu Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Utara, Langsa, Bener Meriah, dan Takengon. Awalnya, kata Chaidir, mereka mendapati fakta bahwa determinan HIV/AIDS banyak terdapat di kalangan nonheteroseksual, seperti, lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual (LGBT).

Dia melanjutkan, reduksi kalangan nonheteroseksual di Aceh bertubrukan dengan pemanfaatan moda teknologi global yang semakin massif sehingga keberadaan kalangan ini kian meningkat. Kata Chaidir, kenyatan ini boleh jadi akan saling renteng dan berpotensi membuat angka penderita HIV/AIDS meningkat. "Lhokseumawe Aceh Utara dan Langsa, dominannya di situ," katanya, Jumat (17/7/2020).

Pegiat sosial ini menerangkan, dari para penderita HIV/AIDS yang mereka dampingi, diketahui bahwa terdapat IRT yang mengidap penyakit tersebut. Setelah ditelusuri, terungkap fakta lain, ternyata para IRT tersebut selama ini nyambi sebagai PSK. "Memang bukan semua ibu rumah tangga, tapi ada PSK dari IRT, dan kasusnya juga lumayan besar. Ini juga seiring sebenarnya dengan penangkapan yang dilakukan oleh Polres Langsa," ujar Chaidir.

Sebagai diberitakan sebelumnya, polisi telah menangkap dua muncikari yakni, YN (47) dan HN (35), pada Mei lalu. Keduanya merupakan IRT, warga Kecamatan Langsa Kota dan Langsa Baro.

Dari hasil pengembangan, polisi kemudian menangkap lima wanita yang rata-rata merupakan IRT berusia muda (mamah muda), yaitu, IF (24), DAR (23), CLW, CJW, dan FNR (22), warga Langsa.

Menurut Chaidir, praktek prostitusi online di Aceh sudah terdeteksi sejak 2018. Dia membedakan para PSK atas dua jenis, yaitu PSK yang bekerja di tempat khusus seperti lokasi prostitusi dan PSK nyambi yang tidak bekerja di tempat prostitusi. Kelompok ini, katanya, bisa berasal dari mahasiswa, IRT, atau status lain. "Mereka tidak mau dikatakan PSK, kadang-kadang mereka juga tidak mau dibayar, tapi, mereka butuh seks," katanya.

Chaidir menyadari, pengungkapan fakta oleh lembaganya telah menjadi bola panas di tengah masyarakat Aceh. Bahkan, katanya, YPAP saat ini telah menjadi objek perundungan berbagai pihak. Dia mengaku tidak paham sikap pihak yang mempertanyakan kerja YPAP. “Apa kami perlu menutupi kemunafikan ini bahwa tidak ada penyakit di sini?" pungkasnya.[]

Komentar

Loading...