Breaking News

Aksi Demo yang Berekses Pemukulan Cagee

Diusut, Aktor Intelektual yang Giring Mahasiswa Turunkan Merah Putih

Diusut, Aktor Intelektual yang Giring Mahasiswa Turunkan Merah Putih
Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Riyanto bersama Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono pada jumpa pers di Mapolda Aceh, Minggu (18/8/2019). Foto: repro. 

BANDA ACEH – Pihak Polda Aceh sedang mengusut aktor intelektual yang menggiring mahasiswa menurunkan bendera Merah Putih dan menaikkan Bulan Bintang pada aksi demo yang berakhir ricuh, Kamis (15/8). Demo dalam rangka memperingati 14 Tahun Aceh Damai itu sendiri, menurut polisi, tak memiliki izin.

Pada acara jumpa pers di Mapolda Aceh, Minggu (18/8/2019), Kabid Humas Polda Aceh Kombes Ery Apriyono menjelaskan, pihaknya sedang mencari “sutradara” demo. "Polda Aceh akan mengusut tuntas demo tersebut, termasuk mencari aktor intelektual yang mensetting unjuk rasa," ujarnya. 

Kabag Humas Polda menjelaskan kronologi kejadian yang berujung terjadinya dugaan pemukulan terhadap Ketua Komisi I DPRA, Azhari Cagee. Menurutnya, polisi terpaksa membubarkan paksa aksi demo karena mahasiswa hendak menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang.

Ery mengatakan, tindakan menurunkan bendera Merah Putih dan mengibarkan Bulan Bintang, termasuk penghinaan terhadap lambang negara, merongrong kewibawaan negara, dan melecehkan harga diri Ibu Pertiwi. Polisi, katanya, sudah melakukan tindakan persuasif dengan membubarkan paksa aksi massa.

Dia menjelaskan, bendera merah putih adalah bendera Indonesia yang diatur Undang-undang. Sementara Bulan Bintang merupakan bendera yang pernah digunakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat konflik dulu.

"Itu adalah bendera separatis yang disebutkan secara ekspisit dan implisit dalam Peraturan Pemerintah No 77 Tahun 2007,” ujarnya sambil menambahkan bahwa qanun bendera dan lambang Aceh telah dibatalkan oleh Mendagri lewat surat Nomor: 188.34/2723/SJ tertanggal 26 Juli 2016.

Pernyataan Kabid Humas Polda Aceh yang menyatakan mahasiswa memaksa menurunkan Bendera Merah Putih dalam aksi tersebut, sebelumnya sudah dibantah oleh mahasiswa yang melakukan aksi.

Dalam konferensi pers di ruang Komisi II DPRA, Jumat (16/8/2019) lalu, pihak pendemo telah menyampaikan bantahan atas tudingan polisi yang menyebut mereka berusaha menurunkan bendera Merah Putih. “Tidak ada upaya untuk menurunkan bendera Merah Putih. Kami minta Kapolresta mengklarifikasi tuduhan tersebut,” kata Ikhwanul Fuadi di depan anggota Dewan dan teman-temannya.

Sementara kuasa hukum lima mahasiswa yang sempat ditahan polisi, Muhammad Reza Maulana, memastikan bahwa tidak ada upaya untuk menurunkan Bendera Merah Putih. “Kami pastikan tidak ada upaya itu, karena mahasiswa ini kaum intelektual, tidak mungkin menurunkan Bendera Merah Putih untuk menaikkan bendera bintang bulan,” ujarnya.[K73-02]

Komentar

Loading...