Breaking News

Bandar Ganteng Asal Aceh Seludupkan 41,6 Kg Sabu ke Lampung

Bandar Ganteng Asal Aceh Seludupkan 41,6 Kg Sabu ke Lampung
Bandar sabu asal Aceh (foto: repro)

BANDA ACEH – Seorang bandar sabu berwajah ganteng asal Aceh tewas ditembak petugas BNN di kawasan Lampung. Anak muda malang itu bernama Muntasir, warga Bandar Raya Kota Banda Aceh.

Menurut petugas, Muntasir diduga sebagai pengendali jaringan 1,6 Kg sabu yang diselundupkan ke Lampung. Aksi penyelundupan itu digagalkan BNNP Lampung dengan barang sitaan seberat 41,6 kg.

BNNP Lampung juga menembak mati seorang pengedar sabu asal Aceh. Selain mengamankan 41,6 Kg sabu yang dikirim dari Aceh, petugas juga berhasil menangkap lima tersangka lainnya setelah dilumpuhkan dengan senjata api .

Keenam tersangka, yakni Hatami alias Tami alias Iyong (33) warga Teluk Betung Selatan, Supriyadi alias Udin (33) warga Teluk Betung Selatan, Suhendra alias Midun (38) warga Jalan Gunung Kunyit.

Kemudian, Irfan Usman (38) warga Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, Jefri Susandi (41) warga perumahan Puri Hijau Kecamatan Kedaton, dan Muntasir (36) warga Bandar Raya Kota Banda Aceh.

Irfan Usman ditembak lantaran berusaha melawan saat diamankan dan dia pun meinggal dunia. Sabu seberat 41,6 kilogram yang ditaksir senilai Rp 40 miliar dikirim untuk stok persediaan malam Tahun Baru 2020 di Lampung.

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan penggagalan peredaran gelap narkotika ini bermula dari informasi masyarakat. "Informasinya akan ada pengiriman Sabu pada Rabu 4 Desember 2019, menggunakan kendaraan dan diterima oleh kurir di Lampung," katanya, Selasa 10 Desember 2019.

Ery menjelaskan, informasi yang didapat serah terima sabu tersebut akan dilakukan di Rumah Sakit di Bandar Lampung. Dapat informasi akan transaksi di rumah sakit, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung sebar anggota di Rumah Sakit.

Selain itu, lanjut Ery, tim intel BNNP Lampung melakukan penyelidikan secara IT dan Human hingga menemukan profil target kurir penerima yang bernama Suhendra Alias Midun. "Dari hasil pengintaian ternyata transaksi dilakukan di Parkiran RSUDAM," katanya.

Lanjutnya, tim bergerak ke RSUDAM dan tim BNNP Lampung mendapati Kendaraan Jenis Toyota Fortuner warna putih nopol B 1753 WLR yang ditinggalkan menyala di parkiran RSUDAM.

"Kami langsung melakukan penyergapan, namun kurir penerima berusaha melarikan diri," katanya.

Dari penyergapan ini, lanjut Ery, diamankan Suhendra alias Midun (38) warga Jalan Gunung Kunyit, Irfan Usman (38) warga Baktiya Barat Kab Aceh Utara.

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan mobil Toyota Fortuner warna putih bernopol B 1753 WLR sempat ditinggalkan begitu saja oleh kurir berasal dari Aceh yang diketahui bernama Irfan Usman. "Saat tim melakukan penyergapan ternyata kurir (Suhendra dan Irfan Usman) mengetahui dan berusaha lari," ujarnya, Selasa 10 Desember 2019.

Dijelaskan, Irfan berhasil ditangkap di RSUDAM, sementara Suhendra berusaha kabur dengan menggunakan mobil Toyota Fortuner warna putih bernopol B 1753 WLR keduanya

Tersangka Suhendra memacu kendaraan menuju ke arah jalan Tengku Umar lalu masuk ke dalam Gang Onta dan mencoba melarikan diri dengan meninggalkan kendaraan. "Kami berikan tembakan peringatan, namun tak diindahkan sehingga kami lakukan tindakan tegas terukur di kaki tersangka," ucapnya.

Dari dalam mobil, tambah Ery, pihaknya mengamankan sabu 41,6 kilogram yang ditempatkan di 40 bungkus teh hijau cina dengan berat masing-masing 1 kilogram. "Sabu-sabu ini dibungkus dengan bungkusan teh merek dari Cina. Nilainya fantastis, mencapai Rp40 miliar," kata Ery.

Dikendalikan 3 Narapidana

Dari hasil pengembangan, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung amankan tiga orang pengendali penerima sabu 41,6 kilogram. Tiga orang pengendali penerima dan penyebar ini ternyata berada didalam rumah tahanan (Rutan) Way Huwi.

Ketiganya yakni Hatami alias Tami alias Iyong (33) warga Teluk Betung Selatan, Supriyadi alias Udin (33) warga Teluk Betung Selatan, dan Jefri Susandi (41) warga perumahan Puri Hijau Kecamatan Kedaton.

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan ketiga tahanan Rutan tersebut dijemput tak lama dari penangkapan kedua kurir.

"Kami ambil ketiganya di Rutan Way Huwi saat itu juga dan kami dapatkan tiga unit handphone dari tangan ketiganya," ungkapnya, Selasa 10 Desember 2019.

Ery mengatakan, salah satu tersangka Jefri Susandi merupakan tahanan yang baru saja ditangkap oleh BNNP Lampung atas pengiriman sabu 13 kilogram. "Dia ini pemain yang sudah kami tangkap, dan masih jalani persidangan, mungkin belum puas bawa 13 kilogram," tuturnya. 

Kurir Aceh Utara ditembak Mati

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan menuturkan dengan menggunakan mobil tiga orang tahanan rutan dan dua orang kurir tersebut dibawa ke Kantor BNNP untuk didalami jaringannya.

"Saat perjalanan, para tersangka berusaha melawan dan kabur, sehingga anggota terpaksa lakukan tindakan tegas terukur," sebutnya, Selasa 10 Desember 2019.

Kelima tersangka ini pun, kata Ery, setelah dilakukan tindakan tegas terukur dilakukan pertolongan menuju rumah sakit terdekat. "Namun belum sampai ke rumah sakit, salah satu tersangka (Irfan) kehabisan darah sehingga tak bisa tertolong," katanya.

Ery menambahkan jenazah Irfan kemudian dikirim ke Aceh untuk diserahkan kepada keluarga. "Tersangka sudah dimakamkan," tutupnya.

Ringkus Muntasir

Tak terima 41,6 kilogram sabu akan disebar di Provinsi Lampung, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung telusuri jaringan hingga ke Aceh. "Kami fokus jaringan yang mau menghancurkan provinsi Lampung. Kami ada niat terus mengungkap maka kami telusuri ke Aceh," katanya, Selasa 10 Desember 2019.

Kata Ery, pengejaran dilakukan hingga ke Aceh setelah tersangka Jefri Susandi mengaku mendapatkan sabu tersebut dari Muntasir. "Dia ini DPO, maka tak ambil pusing kami bersama Tim Tindak Kejar BNN RI bergerak melakukan pengembangan
ke Provinsi Aceh pada Sabtu 7 Desember 2019," katanya.

Ery menuturkan, Muntasir ditangkap sedang bersembunyi disebuah rumah yang beralamat Dham Ceukok, Kecamatan Aceh Jaya, Kab Aceh Besar. "Diketahui Rumah tersebut milik PNS Lampas Kelas II Lambaro (atas nama Fatwa)," katanya.

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari mengatakan setelah menangkap Muntasir, pihaknya langsung melakukan pengembangan TPPU.

"Pertama dilakukan penggeledahan di rumah tersangka pukul 18.45 wib, setelah penangkapan, yang beralamat di Meunasah Manyang Pagar Air Aden yang dihuni oleh DK, DK ini istri pertama tersangka Muntasir," katanya, Selasa 10 Desember 2019.

Kedua, kata Ery, pengembangan dilakukan di rumah orang tua DK beralamat Lamlagang no. 77 Rt 01 Rw 00 Banda Aceh, sekira pukul 20.50 WIB.

Lalu, penggeledahan ketiga dilakukan sekira pukul 21.40 WIB di Doorsmer 46 Car Care dan Detailing Neusu di Aceh, Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh.

"Car Care dan Detailing Neusu ini tempat car wash, lalu penggeledahan keempat dilakukan sekira pukul 22.39 WIB di rumah FH masih saudra tersangka yang beralamat di Desa Meunasah Manyang Pagar Air no. 09 Kecamatan Ingin Jaya," katanya.

"Terakhir penggeledahan di rumah GM istri pertama tersangka di Lorong Melati no. 6 Lambhuk Ulekareng Kota Banda Aceh, sekira pukul 23.00 wib," imbuhnya.

Kata Ery, dari hasil penggeledahan ini pihaknya mengamankan Mobil Honda Jazz BL 1885 JJ, Mobil Honda CrV BL 1149 JE, Mobil Range Rover B 2540 STH, 2 Sertifikat Tanah, uang Rp 1.100.000, uang 150 Ringgit Malaysia, perhiasan, beberapa kartu ATM, beberapa buku tabungan dan paspor.

"Terhadap Tersangka dan barang bukti Kemudian dibawa, dan diamankan oleh Penyidik di Kantor BNNP Lampung," tandasnya.

Tujuh Kali jual sabu ke Lampung

Tujuh kali jual sabu di Lampung, Muntasir (36) warga Bandar Raya Kota Banda Aceh ngaku tidak tahu orang yang memasok sabu.

Sembari kesakitan, Muntasir mengaku jika pengiriman sabu seberat 41,6 kilogram ini merupakan pengiriman terbesar selama menjual sabu di Lampung. "Saya jual sabu cuman di Lampung, baru tujuh kali ini, dan ini yang ketujuh yang besar biasanya dua sampai sepuluh kilo," katanya, Selasa 10 Desember 2019.

Kata Muntasir, barang tersebut dikirim oleh seseorang yang tak dikenalnya dan hanya berkontak melalui handphone. "Yang ngirim ke Lampung itu kurir bos, yang ngambil kurir saya, saya gak pernah ketemuan," katanya.

Muntasir pun mengaku tiga orang dari Rutan merupakan orang yang diperintahnya. "Kalau yang dari Rutan itu bawahan saya," tandasnya.

Mengaku Bantu Saudara

Suhendra alias Midun (38) nekat ambil sabu 41,6 kilogram dengan modus membantu saudara. Midun mengaku mengambil mobil Toyota Fortuner warna putih nopol B 1753 WLR di parkiran RSUDAM setelah diperintah Supriyadi alias Udin (33). "Saya cuma mengambil mobil, disuruh saudara saya Udin," kata Midun, sembari merintih kesakitan, Selasa 10 November 2019.

Midun pun mengaku saat setelah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada anggota BNNP Lampung. "Saya langsung kabur, ke (jalan) Teuku Umar," tutur Midun.

"Sampai sana saya ketangkap, sudah coba lari," imbuh Midun.

Tersangka Jefri  Masih jalani persidagan

Jefri Susandi (41) mengaku saat ini masih menjalani persidangan atas perkara sabu seberat 13 kilogram. "Ya saat ini masih sidang," katanya, Selasa 10 Desember 2019.

Lanjutnya, Jefri nekat mau mengambil barang haram tersebut lantaran tergiur dengan janji keuntungan. "Namanya manusia, imannya kurang, tergiur keuntungan," tukasnya.

Terkait handphone, Jefri mengaku mendapatkan dari teman dengan cara dilempar. "Hp dilempar dari luar, temen yang ngelempar, sebelumnya teman besuk, lalu janjian dilempar," tandasnya.

Sabu seberat 41,6 kilogram yang ditaksir senilai Rp 40 miliar dikirim untuk stok persediaan malam Tahun Baru 2020 di Lampung.

Kabid Berantas BNNP Lampung Kombes Pol Hendry mengatakan bahwa barang tersebut dikirim khusus untuk Lampung. "Jadi hanya stok," katanya singkat setelah gelar ekpose, Selasa 10 Desember 2019.

Lanjutnya, modus yang digunakan jaringan ini adalah sistem selter putus yang tidak saling mengenal tapi saling percaya. "M ini (Muntasir) bos Aceh kirim ke Lampung, dan koordinasi dengan Jefri, karena Jefri masih sidang, maka koordinasi dengan Tami," katanya, Selasa 10 Desember 2019.

"Karena Tami tidak ada kenalan, maka meminta bantuan Udin, yang masih satu Rutan, dan Udin minta Midun untuk ambil barang itu, karena masih hubungan keluarga," imbuhnya.

Terkait asal barang tersebut, Hendry mengaku masih melakukan pendalaman lagi. "Masih kami dalami, ini dari luar mana," tandasnya.

Senada dengan Kasi Intel BNNP Lampung Richard PL Tobing bahwa sabu seberat 41,6 kilogram ini untuk stock pergantian malam tahun baru. "Jelas, karena ini untuk dan khusus pengiriman Lampung bukan untuk menyebrang," tukasnya.

Terkait trend narkoba di Lampung sendiri, Richard mengaku masih didomasi oleh sabu. "Dan modus penyelundupan tetap melalui darat menggunakan mobil pribadi," ujarnya.

Atas pengiriman sebanyak itu, Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Ery Nursatari akan melakukan kerjasama dengan stakeholder dan juga masyarakat. "Apalagi proses pergantian tahun baru, masyarakat euporianya berlebih, (narkoba) untuk bahan bahagia," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya sudah mengantisipasi titik rawan di Lampung. "Kami maping jaringan di Lampung untuk permaslahan ini," tandasnya.[]

Komentar

Loading...