Breaking News

Bagaimana Hukum Badal Haji?

Bagaimana Hukum Badal Haji?
Ilustrasi (foto: repro)

BADAL Haji sebetulnya bukan istilah asing dalam ritual rukun Islam kelima. Secara harafiah, badal berarti pengganti atau wakil.

Jadi, badal haji sama juga dengan mewakili seseorang berhaji, dengan ketentuan orang yang mewakili harus sudah lebih dulu melaksanakan ibadah haji secara sempurna.

Dalam istilah haji, orang yang menghajikan orang lain disebut mubdil. Badal dapat dilakukan berdasarkan beberapa dalil dan rujukan riwayat.

Membadalkan orang yang meninggal dan masih memikul kewajiban haji atau belum menunaikan haji yang telah diikrarkannya. Dengan demikian wajib bagi walinya untuk menyiapkan orang (badal) yang akan melakukan haji, atas namanya dengan biaya dan hartanya, sebagaimana wali itu wajib membayar utang-utangnya.

Hukum badal haji terdapat dalam hadist Rasulullah SAW yang diriwatkan Ibnu Abbas:

"Seorang perempuan dari bani Juhainah datang kepada Rasulullah bertanya, "Rasulullah! Ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, hingga beliau meninggal padahal dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut, apakah aku bisa menghajikannya? 

Rasulullah menjawab "Hajikanlah untuknya, kalau ibumu punya hutang kamu juga wajib membayarnya, bukan? Bayarlah hutang Allah, karena hak Allah lebih berhak untuk dipenuhi," (H.R. Bukhari & Nasa’i).

Selanjutnya, Ustadz Ahcmad Ikrom menjelaskan, pada praktiknya badal haji sama seperti haji pada umumnya. Syaratnya hanya orang yang membadali sudah pernah berhaji terlebih dahulu. Orang yang membadali pun tidak mesti dari pihak keluarga, bisa juga orang lain yang dipercaya untuk melakukan ibadah tersebut.

Sebelum kita melakukan ibadah haji, bagusnya memang mendahulukan orangtua kita untuk dibadalkan misalnya, telah wafat dan memiliki nazar berhaji.

"Kalau orangtua pernah nadzar bagusnya didahulukan orangtua, tapi kalau tidak pernah nadzar ya sebagai anak hendaklah berhaji. Tapi, kalaupun didahulukan orangtua posisi sang anak pun tidak bisa menghajikannya karena sang anak juga belum pernah haji," sambung Achmad Ikrom.

Meski dalam praktiknya sama seperti haji pada umumnya, namun niat yang ucapkan untuk membadalkan haji berbeda, yaitu:

نَوَيْتُ الحَجَّ عَنْ فُلَانٍ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى

Nawaytul hajja ‘an fulān (sebut nama jamaah haji yang dibadalkan) wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja ibadah haji untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan) dan aku ihram haji karena Allah ta‘ala.”

Selain hadist di atas, hukum badal haji juga disampaikan dalam riwayat lain.

"Dari Abdullah bin Buraidah radhiallahu anhu, dia berkata, ketika kami duduk di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang wanita datang dan bertanya, ‘Sesungguhnya saya bersadakah budak untuk ibuku yang telah meninggal.' Beliau bersabda, ‘Anda mendapatkan pahalanya dan dikembalikan kepada Anda warisannya.' Dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya beliau mempunyai (tanggungan) puasa sebulan, apakah saya puasakan untuknya?' Beliau menjawab, ‘Puasakan untuknya.' Dia bertanya lagi, ‘Sesungguhnya beliau belum pernah haji sama sekali, apakah (boleh) saya hajikan untuknya? Beliau menjawab, ‘Hajikan untuknya.’ (HR. Muslim, 1149).

Jika melihat hadist tersebut, tidak hanya haji saja dapat dibadalkan, melainkan juga ibadah lain seperti puasa juga dapat dibadalkan atau digantikan.

"Selain haji, ada ibadah lain yang juga bisa dibadalkan, itu hadistnya." pungkasnya.[Okezone]

Komentar

Loading...